
ilustrasi orang yang depresi. (Freepik)
JawaPos.com – Menarik diri dari lingkungan sosial dan media sosial menjadi salah satu tanda depresi pada remaja. Jika dibiarkan, potensinya besar untuk melakukan bunuh diri. Terlebih jika mereka mendapat respons yang berujung pada bullying.
Dokter spesialis jiwa RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH), dr. Riko Lazuardi, Sp.KJ, mengatakan, sedih berkepanjangan, tidak bisa merasa bahagia dan tidak berenergi menjadi tanda orang mengalami depresi. Dari sisi fisik, mereka tidak peduli dengan penampilannya. “Mereka juga tidak mau bergaul atau lebih mengurung diri,” ucapnya kemarin.
Tanda lain adalah menarik diri dari medsos. Misalnya Gen-Z menonaktifkan semua akun media sosialnya. Kondisi ini perlu diwaspadai. Lebih berbahaya lagi, jika sebelumnya sempat mengunggah postingan galau yang menandakan kesendirian atau putus asa. Kalau dibiarkan, risiko terburuknya adalah bunuh diri.
Menurut Riko, postingan tersebut sebenarnya cara yang bersangkutan untuk mencari perhatian. Jika perhatian itu tidak didapat, langkah berikutnya bisa berujung pada bunuh diri. Yang dikhawatirkan, kalau justru mendapat respons terkesan menyepelekan. Hal itu bisa dianggap sebagai bentuk bullying dan memperbesar dorongan untuk bunuh diri.
Antisipasi kondisi tersebut tidak sulit. Orang terdekat cukup memberi ruang untuk bercerita tanpa langsung menasihati. Hal itu dinilai penting agar yang bersangkutan tidak merasa kesepian. Karena itu, siapa pun harus peduli, termasuk memperhatikan kondisi media sosialnya. “Bisa dilihat kalau postingannya mengandung kata ‘minta maaf, capek’, kesepian, itu tanda awal,” ujar Riko.
Dia menuturkan, ekspresi antara perempuan dan laki-laki saat depresi berbeda. Perempuan cenderung speak up tentang masalahnya, termasuk melalui postingan di medsos. Beda dengan pria, mereka cenderung diam tanpa bercerita ke orang terdekatnya.
Itu kenapa, lanjutnya, percobaan bunuh seringkali dialami perempuan. Misalnya minum obat untuk mematikan sarafnya atau melukai diri. Kalau cara tersebut belum mendapat respon dari orang terdekat. Maka, tindakan berikutnya bisa mengarah ke fatal. Seperti sayatan yang dilakukan lebih dalam.
Sementara, pria lebih berbahaya lagi. Tindakan yang dilakukan cenderung langsung fatal. Yang jelas, tindakannya tersebut bisa langsung mengancam nyawanya. Karena itu, rasa peka terhadap sesama sangat penting di era perkembangan zaman. Sebab, medsos juga menjadi salah satu sumber depresi. Terutama kalau digunakan untuk membandingkan pencapaian dengan orang lain.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
