Ilustrasi seorang wanita yang tampak sedih dan menyendiri di tengah keramaian (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Apakah kamu sering mendapati dirimu mengakhiri hubungan asmara, bahkan ketika semuanya tampak berjalan baik? Atau mungkin kamu merasa selalu ada saja masalah yang muncul dan membuat hubunganmu kandas? Jika ya, mungkin ada hubungannya dengan pengalaman masa kecilmu.
Tanpa disadari, pengalaman-pengalaman di awal kehidupan bisa membentuk pola perilaku yang terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara kita menjalin hubungan. Melansir dari Geediting.com, Kamis (17/4), mari kita telaah delapan pengalaman masa kecil yang mungkin menjadi alasan mengapa seseorang terus-menerus menyabotase hubungannya.
1. Diabaikan atau Tidak Diperhatikan secara Emosional
Ketika seorang anak merasa diabaikan atau kebutuhannya tidak dipenuhi oleh orang tua atau pengasuh, mereka bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang takut akan keintiman. Mereka mungkin secara tidak sadar menjauhkan diri dari pasangan karena takut ditolak atau diabaikan lagi seperti yang pernah mereka alami di masa kecil.
2. Melihat Pertengkaran atau Ketidakharmonisan Orang Tua
Masa kecil yang diwarnai dengan pertengkaran atau ketidakharmonisan antara orang tua dapat menanamkan ketidakpercayaan terhadap hubungan yang sehat. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini mungkin tanpa sadar meniru pola hubungan yang tidak sehat atau justru takut untuk berkomitmen karena trauma melihat konflik.
3. Merasakan Kehilangan atau Kematian Dini Orang Tua
Kehilangan orang tua di usia muda adalah pengalaman traumatis yang bisa meninggalkan luka mendalam. Anak-anak yang mengalami kehilangan mungkin mengembangkan rasa takut akan kehilangan dalam hubungan romantis mereka di kemudian hari. Rasa takut ini bisa memicu perilaku sabotase sebagai mekanisme pertahanan diri.
4. Bertanggung Jawab Atas Kebutuhan Orang Tua (Parentifikasi)
Ketika seorang anak dipaksa untuk mengambil peran orang tua dan bertanggung jawab atas kebutuhan emosional atau fisik orang tuanya, mereka mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang kesulitan menerima cinta dan perhatian dari pasangan. Mereka terbiasa memberi, bukan menerima, dan merasa tidak nyaman dengan keintiman yang timbal balik.
5. Mengalami Pelecehan Emosional, Fisik, atau Seksual
Pengalaman pelecehan di masa kecil dapat menyebabkan trauma yang berkepanjangan dan memengaruhi kemampuan seseorang untuk mempercayai orang lain dan menjalin hubungan yang sehat. Korban pelecehan mungkin memiliki harga diri yang rendah dan merasa tidak layak untuk dicintai, yang dapat menyebabkan perilaku merusak diri dalam hubungan.
6. Memiliki Orang Tua dengan Masalah Kesehatan Mental atau Kecanduan
Tumbuh dengan orang tua yang memiliki masalah kesehatan mental atau kecanduan bisa menciptakan lingkungan yang tidak stabil dan tidak aman bagi anak. Anak-anak dalam situasi ini mungkin mengembangkan rasa tidak aman dan kesulitan membangun kepercayaan dalam hubungan di masa depan.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
