Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Maret 2025 | 23.30 WIB

Mengungkap Misteri Kebohongan dari Sudut Pandang Neurosains, Apa yang Terjadi di Otak saat Kita Tidak Jujur?

Ilustrasi kebohongan dari sudut pandang neurosains (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi kebohongan dari sudut pandang neurosains (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Kebohongan adalah fenomena kompleks yang melibatkan berbagai aspek evolusi, neurologi, dan psikologi manusia. Memahami mekanisme di balik perilaku ini dapat memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana otak kita bekerja saat kita tidak berkata jujur.

Mengapa Kita Berbohong?

Dilansir dari Mind Lab Neuroscience, secara evolusioner, kemampuan untuk berbohong mungkin telah berkembang sebagai mekanisme bertahan hidup. Manusia purba mungkin menggunakan kebohongan untuk menghindari predator atau bersaing memperebutkan sumber daya. 

Seiring berjalannnya waktu, kebohongan menjadi alat untuk mengatur, atau mengendalikan pola hubungan sosial dan menjadikannya bagian yang umum dalam proses sosialisasi manusia. 

Apa yang Terjadi di Otak saat Kita Berbohong?

Berbohong adalah proses yang kompleks yang melibatkan beberapa bagian otak berikut ini:

Korteks Prefrontal: Bagian otak ini bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan pengendalian diri. Saat kita berbohong, aktivitas di area ini meningkat karena kita harus menekan respons jujur dan membuat cerita palsu.

Amygdala: Terlibat dalam pengolahan emosi seperti rasa takut dan cemas. Saat pertama kali berbohong, amygdala akan aktif, menimbulkan perasaan tidak nyaman. Namun, jika kebohongan terus berlanjut, respons emosional ini bisa menurun, membuat kebohongan menjadi lebih mudah dilakukan karen menjadi respons yang normal.

Penelitian menunjukkan bahwa semakin sering seseorang berbohong, semakin berkurang respons emosional otak terhadap kebohongan tersebut. Ini berarti, seiring waktu, berbohong bisa menjadi lebih mudah dan kurang menimbulkan rasa bersalah.

Kebohongan dalam Konteks Sosial

Dalam konteks sosial, kebohongan sering digunakan untuk menjaga harmoni atau menghindari konflik. Namun, kebohongan juga dapat merusak kepercayaan dan hubungan antarindividu. 

Memahami mekanisme otak saat berbohong membantu kita menyadari betapa kompleksnya perilaku manusia dan pentingnya kejujuran dalam membangun hubungan yang sehat. Di sisi lain, kita dapat lebih bijak dalam menilai perilaku kita sendiri dan orang lain, serta memahami dampaknya. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore