Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. (Nurul Fitriana/JawaPos.com)
JawaPos.com - Presiden Prabowo Subianto bergerak cepat mencopot tiga pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) sebelum penggeledahan oleh penegak hukum. Namun, langkah ini dinilai bukan solusi konkret untuk menyelesaikan sengkarut tata kelola di lembaga tersebut.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menilai perombakan mendadak ini tak lebih dari sekadar upaya pengendalian dampak (damage control). Langkah ini diduga kuat hanya demi menyelamatkan citra program unggulan pemerintah di mata publik.
Koordinator JPPI Ubaid Matraji menyatakan, pencopotan Dadan Hindayana beserta jajarannya hanya menjawab persoalan integritas personal. Sayangnya, kebijakan tersebut dinilai gagal total dalam menyentuh akar masalah yang bersifat sistemik.
"Namun, pergantian pimpinan tidak akan menyelesaikan masalah, justru berpotensi membuat program MBG ini makin karam sebelum berlayar penuh," ujar Ubaid, Rabu (3/6).
Krisis di tubuh BGN tidak terjadi begitu saja. JPPI menyoroti tiga poin krusial yang menjadi titik lemah program Makan Bergizi Gratis saat ini:
Kritik publik terhadap program MBG bukan sekadar karena faktor figur pimpinannya, melainkan karena desain programnya yang dinilai cacat sejak dalam kandungan. BGN mengelola anggaran yang luar biasa besar.
Ketika pucuk pimpinannya digoyang isu korupsi, hal ini membuktikan kekhawatiran publik. Dana raksasa tersebut sangat rawan menjadi "bancakan" baru akibat pengawasan yang lemah dan dipaksakan berjalan cepat tanpa fondasi sistem yang kokoh.
Kasus hukum yang menimpa pimpinan BGN berdampak langsung pada tingkat kepercayaan masyarakat dan mitra di lapangan. Kasus korupsi ini berpotensi memicu kecurigaan di tingkat bawah.
"Bagaimana publik, sekolah, dan mitra lokal bisa percaya pada program pemberian makanan anak sekolah jika lembaga yang mengaturnya saja sudah digeledah penegak hukum karena dugaan rasuah? Krisis legitimasi ini akan membuat implementasi di lapangan semakin penuh kecurigaan," tegas Ubaid.
JPPI juga mengkritik keras prioritas anggaran pemerintah yang dinilai "jungkir balik". Anggaran MBG yang dipaksakan ini terus menggerus urgensi anggaran publik lainnya, terutama pemenuhan hak-hak dasar.
Hal ini terlihat dari anggaran fungsi pendidikan 20% yang kian terdistorsi. Dampaknya, jaminan kesejahteraan guru serta pembenahan fasilitas sekolah yang rusak menjadi terkorbankan. Bagi JPPI, pergantian pimpinan sama sekali tidak mengubah kebijakan anggaran yang bias tersebut.
Pencopotan jabatan dan penggeledahan ini menjadi tamparan keras bagi ambisi besar pemerintah. JPPI mendesak pemerintah untuk tidak hanya fokus pada pergantian wajah di jajaran komando BGN, melainkan melakukan tiga langkah radikal berikut:
- Evaluasi Total Desain Program: Menghentikan pemaksaan program untuk semua kalangan. Targetnya harus diubah agar lebih targeted (tepat sasaran) bagi mereka yang benar-benar punya masalah gizi dan terkendala akses pangan.
- Audit Transparansi Institusi: Membuka seluruh tata kelola pengadaan dan distribusi anggaran BGN kepada publik, serta membangun fondasi sistem pencegahan korupsi yang kokoh.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
