
Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah. (ANTARA/Donny Aditra)
JawaPos.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sudah mendapat informasi terkini dari peristiwa di Kampung Kembru, Kabupaten Puncak, Papua Tengah pada Selasa (14/4). Mereka mendapat kabar ada 12 warga sipil meninggal dunia dalam peristiwa itu, termasuk diantaranya anak-anak dan perempuan.
Atas informasi tersebut, Komnas HAM turun tangan untuk melakukan pendalaman. Menurut Ketua Komnas HAM Anis Hidayah, belasan korban meninggal itu mengalami luka tembak. Selain itu, Komnas HAM mendapat informasi jatuhnya korban yang mengalami luka serius. Anis menyatakan bahwa korban berjatuhan saat Koops TNI Habema menindak Organisasi Papua Merdeka (OPM).
”Komnas HAM memperoleh informasi terkini kondisi HAM di Kabupaten Puncak. Pada 14 April 2026 terjadi operasi penindakan terhadap kelompok TPNPB-OPM yang dilakukan oleh TNI di Kampung Kembru, Distrik Kembru, Kabupaten Puncak. Peristiwa ini menyebabkan 12 warga sipil meninggal dunia, termasuk kelompok rentan yaitu anak dan perempuan dengan kondisi luka tembak,” kata Anis pada Sabtu (18/4).
Untuk mendalami peristiwa tersebut, Komnas HAM terus mengumpulkan informasi dan berkoordinasi dengan semua pihak. Tujuannya untuk memastikan jumlah korban dan kondisi masing-masing korban. Merespon peristiwa tersebut, Komnas HAM juga telah menyampaikan pernyataan sikap. Salah satunya kecaman terhadap operasi penindakan OPM yang menyebabkan korban jiwa dari unsur sipil.
”Operasi penindakan yang dapat dikategorikan operasi militer maupun operasi militer selain perang yang menimbulkan korban jiwa warga sipil tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun,” tegasnya.
Menurut Anis, segala bentuk serangan terhadap warga sipil dalam situasi perang maupun selain perang yang dilakukan oleh aktor negara maupun non-negara merupakan Pelanggaran HAM dan Hukum Humaniter Internasional yang menyebabkan pelanggaran atas hak hidup dan hak atas rasa aman. Dia tegas menyebut, kedua hak tersebut tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.
”Komnas HAM menyampaikan keprihatinan dan duka yang mendalam atas kematian sejumlah warga sipil termasuk kelompok rentan yakni perempuan dan anak-anak. Dalam perspektif HAM warga sipil terutama kelompok rentan harus mendapat perhatian dan perlindungan maksimal dari semua pihak terutama negara,” jelasnya.
Lebih lanjut, Komnas HAM meminta semua pihak menahan diri, terutama aparat keamanan dan TPNPB-OPM. Itu penting agar tidak menimbulkan ketakutan, stigmatisasi, serta menjadikan warga sipil sebagai sasaran dalam konflik bersenjata. Komnas HAM juga menekankan setiap pendekatan penegakan hukum dan keamanan oleh aparat keamanan dilakukan secara profesional dan terukur dengan tetap menghormati nilai-nilai dan prinsip HAM.
”Komnas HAM meminta pemerintah, baik pusat maupun daerah untuk mengambil langkah- langkah perlindungan maksimal dan pemulihan bagi korban jiwa maupun luka-luka, yaitu pemulihan kesehatan dan psikologis serta memastikan warga sipil lainnya tidak mengungsi karena alasan keamanan,” terang dia.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
