Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 September 2021 | 01.21 WIB

Tekan Separatis Teroris, Satgas Nemangkawi Gandeng Tokoh dan Warga

KEJAR: Aparat gabungan TNI-Polri saat melakukan penyisiran KKB di sekitar Bandara Aminggaru, Ilaga, Kabupaten Puncak, kemarin (4/6). (ANTARA HO-HUMAS SATGAS NEMANGKAWI) - Image

KEJAR: Aparat gabungan TNI-Polri saat melakukan penyisiran KKB di sekitar Bandara Aminggaru, Ilaga, Kabupaten Puncak, kemarin (4/6). (ANTARA HO-HUMAS SATGAS NEMANGKAWI)

JawaPos.com – Umur panjang kelompok separatis teroris (KST) kendati terus digempur TNI dan Polri diyakini karena masih adanya dukungan warga terhadap mereka. Karena itu, Satgas Nemangkawi terus berupaya menggandeng penduduk dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat Papua.

Menurut Kasatgas Humas Operasi Nemangkawi Kombespol A.M. Kamal, para tokoh masyarakat sudah memiliki kesamaan pandangan bahwa jalan kekerasan hanya akan menimbulkan kekecewaan dan korban. ”Kekecewaan yang timbul di masyarakat hingga aparat,” ujarnya.

Dia menuturkan, sebenarnya kejadian di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, juga terkesan ada negosiasi yang diinginkan KST. Sebab, sebelumnya terdapat penangkapan sejumlah rekan KST.

Selain itu, ada seorang anggota KST bernama Ananias Yalak alias Senat Soll yang meninggal setelah dirawat di rumah sakit. Dia menyatakan bahwa Ananias Yalak ditangkap 1 September lalu di markas KNPB di Dekai, Kabupaten Yahukimo.

Kesehatannya memburuk setelah hampir sebulan dirawat di rumah sakit. ”Senat Soll meninggal Minggu (26/9) sekitar pukul 22.50,” terang anggota kepolisian yang juga menjabat Kabidhumas Polda Papua tersebut.

Pada bagian lain, Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Sebby Sambom mengatakan, tewasnya Senat Soll menjadi duka nasional untuk TPNPB-OPM. Sebab, Senat Soll merupakan orang yang memilih TPNPB-OPM ketimbang TNI. ”Senat Soll dulu anggota TNI dan desersi karena bergabung dengan kami,” ujarnya.

Dia menuturkan, Senat Soll ditangkap bersama enam orang lainnya pada 1 September. Namun, belakangan dia meninggal saat dirawat di rumah sakit. ”Kami peringatkan kembali bahwa Yahukimo ini wilayah perang. Warga sipil jangan ke Yahukimo atau menerima akibatnya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ahmad Taufan Damanik menyatakan bahwa pihaknya sangat prihatin dan menyesalkan insiden di Kiwirok, Pegunungan Bintang. Menurut dia, itu bukan kali pertama KST menyerang pekerja sipil dalam konflik berkepanjangan di Papua.

Pihaknya sangat menyayangkan hal itu lantaran kali ini korbannya merupakan tenaga kesehatan. ”Dalam instrumen hukum internasional yang sudah kita ratifikasi, ada ketentuan yang sangat tegas melarang serangan kepada pekerja-pekerja sipil, khususnya tenaga medis,” terang dia.

Aturan tersebut berlaku dalam situasi damai maupun kontak senjata. ”Jadi, yang terjadi di Kiwirok itu sangat bertentangan dengan hukum internasional dan prinsip hak asasi manusia,” tegasnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore