
Kapolda Sulteng Irjen Polisi Syafril Nursal. Sulapto Sali/Antara
JawaPos.com–Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Polisi Syafril Nursal menegaskan Operasi Tinombala untuk memburu orang-orang yang tercatat dalam daftar pencarian orang (DPO) kelompok sipil bersenjata maupun simpatisan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Kabupaten Poso akan terus dilakukan. Berdasar evaluasi, operasi tersebut telah berhasil mengamankan terduga pelaku teror yang masuk dalam DPO Mujahidin Indonesia Timur maupun simpatisan dari wilayah Kabupaten Poso.
”Jangankan dihentikan, dikendorkan saja tidak boleh. Operasi Tinombala terus digelar,” kata Kapolda Sulteng seperti dilansir dari Antara.
Dijelaskan Kapolda, data 2011 jumlah DPO yang di atas gunung berjumlah 11 orang. Operasi Tinombala menangkap empat orang. ”Operasi Tinombala ini juga melakukan penangkapan di luar DPO sejumlah tujuh orang. Itu adalah mereka-mereka yang akan bergabung di atas gunung dengan membawa peralatan untuk mendukung kegiatan di atas Gunung Biru Poso,” jelas Syafril Nursal.
Pada 2012, lanjut kapolda, ada tujuh orang terduga DPO yang ditangkap dan pada 2013 DPO dari tujuh orang menjadi 24 orang. Pada 2014 turun menjadi 20 dan dua DPO ditangkap. Selain itu, ada 25 orang di luar DPO ikut ditangkap.
”pada 2015 DPO tersisa 18 orang, ditangkap lima orang, di luar DPO ditangkap 23 orang. Tiba-tiba, 2016 DPO menjadi 41 orang, ditangkap DPO 32 orang dan enam orang di luar DPO,” ujar Syafril Nursal.
Dia menjelaskan, pada 2017, jumlah DPO turun menjadi tujuh orang. Namun pada 2019 naik menjadi 10 orang dan ditangkap tiga orang. Dalam perkembangannya, DPO kembali naik menjadi 18 orang yang bersembunyi di atas Gunung Biru Poso.
”Dalam Operasi Tinombala tahap II 2020, Polri sudah menangkap lima DPO dan 17 orang di luar DPO yang diketahui membawa peralatan termasuk bahan peledak untuk membuat bom,” jelas Syafril Nursal.
Kapolda Sulteng menegaskan, operasi perburuan terduga teroris baru bisa dihentikan apabila semua terduga teroris di Kabupaten Poso, ditangkap dan diselesaikan masalahnya.
”Saat ini, hanya dilakukan proses hukum penangkapan untuk yang berada di atas, sedangkan yang di bawah tidak digarap dan persoalan di bawah ini bukan persoalan polisi saja, seperti contoh ada dugaan kelompok-kelompok di sana yang membina teroris,” kata Syafril Nursal.
Kapolda mengajak semua pihak termasuk pemerintah daerah, untuk bersama menjaga dan memberantas dugaan aksi terorisme tersebut agar tidak terjadi di tengah masyarakat. Menurut dia, perlu upaya-upaya untuk mengubah pemahaman mereka agar tidak menjadi teroris. ”Pemerintah harus membuat program bagaimana mereka-mereka bisa diberikan pelatihan. Selama yang di bawah tidak dikelola dengan baik, Operasi Tinombala tidak akan berhenti,” tegas Syafril Nursal.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=G-G2yFWdBXA
https://www.youtube.com/watch?v=PrA-9J9FJWc
https://www.youtube.com/watch?v=upbuhuiwtlg

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
Kronologi Kasus Pelecehan Seksual FH UI, 16 Mahasiswa Terduga Pelaku Disidang Terbuka
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
Momen Terduga Pelaku Pelecehan di FH UI yang juga Anak Polisi Dikonfrontasi Mahasiswa
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
Tak Perlu ke Jogja, 12 Tempat Kuliner Gudeg Ini Ada di Malang yang Juga Istimewa dan Rasanya Juara
12 Kuliner Nasi Pecel Enak di Jember, Perpaduan Sayur Segar, Rempeyek dan Bumbu Kacang yang Sedap
Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026
