Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Oktober 2015 | 17.08 WIB

Centeng Kades Selok Awar-Awar Digaji Rp 3,5 Juta

Photo - Image

Photo

JawaPos.Com - Penetapan status tersangka pada 22 orang yang diduga membunuh Salim alias Kancil, warga Desa Selok Awar-Awar di Pasirian, Lumajang ternyata belum menyentuh aktor intelektualnya. Sebab, otak aksi sadis itu belum terungkap.





Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos, andai aparat Polres Lumajang serius, sebenarnya otak tragedi berdarah di Desa Selok Awar-Awar itu bisa didapat dari para pelaku yang tertangkap. Sebab, di antara 22 pelaku yang ditangkap, ada sembilan orang yang diketahui sebagai anggota utama Tim 12.



Sebagaimana diketahui, Tim 12 merupakan kelompok bentukan Kepala Desa Selok Awar-Awar, Hariyono. Mereka selama ini bertugas layaknya centeng (tukang pukul).



“Kasus pembunuhan itu kan bermula dari penolakan tambang. Nah, yang menikmati hasil tambang itu ya kepala desa. Jelas sudah rangkaiannya,” tegas sumber Jawa Pos yang selama ini dikenal berkawan dekat dengan Hariyono.



Menurut dia, dengan strategi pemeriksaan yang cerdas, para pelaku yang tertangkap itu pasti akan mengaku siapa yang menggerakkan dan menyuruh mereka menyerang aktivis anti penambangan liar. Tim 12 pasti akan loyal kepada Hariyono karena selama ini mereka digaji bulanan.



Tiap bulan, 12 orang tersebut menerima gaji Rp 3,5 juta. Dengan gaji sebesar itu, tugas Tim 12 tak ubahnya centeng. Tugas utama mereka adalah melancarkan bisnis dan kebijakan-kebijakan Hariyono.



Anggota Tim 12 itu membawahkan lagi beberapa orang yang dipekerjakan dengan gaji harian. Mereka biasanya dipekerjakan sebagai pengawas dan penjaga portal retribusi.



Orang-orang bawahan Tim 12 tersebut biasanya diupah Rp 50 ribu per hari. “Para pelaku seperti itu tentu kalau ditanya dengan cara biasa tidak bakal ngaku. Saya yakin mereka sudah didoktrin bahwa nanti ada yang mengurus perkaranya. Nah, tentu mereka takut kalau yang menjamin kemudian ikut masuk penjara,” jelas sumber tersebut.



Karena itu, agar lebih fair dan profesional, sumber tersebut berharap semua pengusutan perkara tersebut diserahkan ke Polda Jatim. Sebab, selama ini banyak yang tahu bahwa Hariyono dekat dengan banyak orang di jajaran Muspida Lumajang, termasuk kepolisian.



“Kalau dengan Kapolres, mungkin tidak kenal karena baru beberapa hari menjabat. Tetapi, dengan pejabat di bawahnya, siapa yang bisa menjamin?” ujarnya.



Orang yang ditemui Jawa Pos tersebut memang kenal dekat dengan Hariyono. Dia mengenal Hariyono sejak muda, jauh sebelum menjadi Kades Selok Awar-Awar.



Akhir 1990-an, Hariyono dikenal sebagai pengusaha jual beli motor hasil kredit macet di desanya. Istilahnya bisnis motor STNK-an atau sepeda motor yang hanya memiliki STNK tanpa BPKB.



Hariyono juga sempat bisnis rental mobil. “Baru dua tahun ini dia bisnis tambang pasir,” ungkapnya.



Dia curiga Hariyono tidak sendiri menjalankan bisnis tambang pasirnya. Diduga, ada orang kuat yang membekinginya sampai keluar surat izin pariwisata yang menjadi modus penambangan pasir liar di Desa Selok Awar-Awar. Sampai kasus tersebut mencuat, wujud tempat wisata di pesisir Selok Awar-Awar itu tidak jelas.(did/gun/c5/kim)

Editor: Ayatollah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore