Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 November 2025 | 00.27 WIB

Kronologi Perundungan Siswa SMP yang Dibenturkan Kursi Besi di Tangsel, Ternyata Sudah Dibully sejak MPLS

Ilustrasi perundungan. (Hanung Hamabara/Jawa Pos) - Image

Ilustrasi perundungan. (Hanung Hamabara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Kasus dugaan perundungan seorang siswa SMPN 19 Kota Tangerang Selatan bernama Muhammad Hisyam (13) tengah menjadi sorotan publik. Bahkan, Hisyam yang sempat dirawat di RS Fatmawati akibat dibenturkan oleh kursi besi, meninggal dunia pada Minggu (16/11).

Kabar ini dibenarkan oleh kuasa hukum keluarga korban, Alvian Adji Nugroho. “Pada pukul enam pagi keluarga yang ada di rumah mendapat kabar dari paman korban yang di rumah sakit (bahwa korban meninggal),” ujar Alvian kepada wartawan, Minggu (16/11).

Adapun ibunda korban, Y (38) sempat mengungkapkan kronologi perundungan yang dialami oleh anaknya. Kepada sang ibu, Hisyam menceritakan bahwa dirinya selalu dibully sejak awal masuk, bahkan sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Juni 2025 yang mana korban ditabok hingga tiga kali.

Tak hanya itu, korban juga mengaku seringkali dibully dengan ditusuk tangannya, ditendang lengan saat belajar, bahkan punggungnya dipukul.

Naasnya, tindakan dugaan bullying kepada korban terus berlanjut hingga Oktober 2025. Bahkan puncak kejadiannya pada Senin (20/10). Saat itu, Hisyam mengaku dipukul dengan kursi besi hingga mengalami benjol di kepala.

Hanya saja, korban tak langsung bercerita kepada keluarga lantaran takut. Terlebih, kondisi ibunda yang baru pulang dari ICU dan harus rawat jalan. Alhasil, korban baru mengakui dugaan bullying kepadanya pada Selasa (21/10).

Saat itu, sang ibu melihat korban dengan gerak gerik yang aneh. Bahkan, Hisyam seringkali linglung saat berjalan. Sang ibu pun melihat ada yang aneh pada gerak-gerik mata Hisyam.

Alhasil, sang ibu mencoba menggali apa yang terjadi pada anaknya, sampai akhirnya sang anak terbuka untuk bercerita.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri di Tangsel, Frida Tesalonika sempat menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi pada Senin (20/10) saat jam istirahat.

Saat itu, sedang diadakan super visit kelas dan pembelajaran berjalan dengan baik dan menyenangkan. Bahkan, guru pengajar disebut mempersiapkan pembelajaran yang matang serta menggunakan alat pendukung seperti proyektor sehingga tak ada indikasi kejadian khusus pada waktu itu. 

Hanya saja, tak lama berselang, sang kepala sekolah mendapatkan foto korban mengalami kondisi mata tertutup akibat luka. Alhasil, pada Rabu (22/10) orang tua korban datang ke sekolah untuk melakukan klarifikasi dan penyelesaian masalah. 

Saat itu, proses penyelesaian berjalan dengan baik. Bahkan pihak sekolah telah melakukan mediasi sekaligus memastikan tak ada konflik lanjutan.

Selanjutnya, wali kelas berkunjung ke rumah korban untuk menjenguk kondisi siswa yang sempat mengalami lemas pada tangan dan kaki. Saat itu, kondisi korban telah membaik lantaran matanya tak lagi tertutup dan bisa berbincang dengan baik.

Hanya saja, beberapa waktu kemudian, pihak keluarga korban mengirimkan pesan kepada pihak sekolah dan mengabarkan adanya keluhan lanjutan, hingga akhirnya korban dirawat di rumah sakit.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore