Devita Sari dan surat wasiatnya. (Istimewa).
JawaPos.com - Kota Solo diguncang kabar duka yang menyayat hati. Hal ini usai Devita Sari Anugraheni, mahasiswi cemerlang Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Universitas Sebelas Maret (UNS) viral diduga bunuh diri melompat dari Jembatan Jurug ke Sungai Bengawan Solo, Senin (1/7), sekitar pukul 12.00 WIB.
Tragedi ini menjadi viral di media sosial (medsos) dan beredar surat wasiat yang ditinggalkan Devita tersebar luas. Warganet terenyuh membaca pesan terakhir sang mahasiswi berprestasi yang selama ini dikenal pendiam, santun, dan cerdas.
“Aku capek, maaf...”
Kalimat itu menjadi salah satu potongan paling memilukan dari surat tulisan tangan yang ditemukan di tas Devita, bersanding dengan ponsel dan sepeda motornya yang diparkir di pinggir jembatan.
Dalam secarik kertas sederhana, Devita menumpahkan isi hatinya yang selama ini mungkin tak pernah ia utarakan kepada dunia.
“Aku pergi ya, jangan salahkan keluarga atau tempat instansi aku kuliah. Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri… Maaf untuk Bapak Dr. Sumardiyono, S.Km karena telah menghianati dan berjanji untuk bertahan… Aku capek, Bu. Maaf aku tak sekuat ibu," demikian isi surat wasiat tersebut.
Dalam surat wasiat tersebut disebutkan nama yang diyakini sebagai dosennya, Dr. Sumardiyono, yang juga tercatat sebagai pembimbing skripsinya. Devita menulis tentang janji yang tak sanggup ia tepati dan rasa kecewa yang dalam, seolah ia merasa telah mengecewakan semua orang, termasuk dirinya sendiri.
Surat ini tidak hanya menggambarkan kepedihan yang mendalam, tetapi juga memberikan potret nyata betapa sunyinya perjuangan batin seseorang yang tampak 'baik-baik saja' di luar.
Dibalik IPK 3,8 dan Skripsi Selesai: Derita yang Tak Terlihat
Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui juru bicara resmi Prof. Dr. Agus Riwanto, S.H., M.H., mengkonfirmasi bahwa Devita merupakan penerima beasiswa KIP-K, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,8.
Skripsinya telah selesai, dan ia hanya tinggal mengurus administrasi wisuda. Namun di balik pencapaian akademik itu, ternyata tersembunyi luka batin yang tak terobati.
Dr. Sumardiyono, dosen sekaligus Wakil Dekan Kemahasiswaan Sekolah Vokasi UNS, mengaku tidak sepenuhnya terkejut. Ia mengetahui bahwa Devita pernah mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hidup pasca sidang skripsi.
Namun upaya itu tampaknya tak cukup untuk menahan beban yang terus menggerogoti mental Devita. Banyak pihak kini mempertanyakan, apakah cukup dukungan yang diberikan kampus terhadap mahasiswa yang mengalami tekanan mental?
Saksi Mata dan Detik-Detik Menegangkan

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
