Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Juli 2025 | 00.29 WIB

Viral Surat Wasiat Devita Sari Ungkap Derita Jiwa Sebelum Lompat ke Bengawan Solo

Devita Sari dan surat wasiatnya. (Istimewa).

JawaPos.com - Kota Solo diguncang kabar duka yang menyayat hati. Hal ini usai Devita Sari Anugraheni, mahasiswi cemerlang Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Universitas Sebelas Maret (UNS) viral diduga bunuh diri melompat dari Jembatan Jurug ke Sungai Bengawan Solo, Senin (1/7), sekitar pukul 12.00 WIB.

Tragedi ini menjadi viral di media sosial (medsos) dan beredar surat wasiat yang ditinggalkan Devita tersebar luas. Warganet terenyuh membaca pesan terakhir sang mahasiswi berprestasi yang selama ini dikenal pendiam, santun, dan cerdas.

“Aku capek, maaf...”

Kalimat itu menjadi salah satu potongan paling memilukan dari surat tulisan tangan yang ditemukan di tas Devita, bersanding dengan ponsel dan sepeda motornya yang diparkir di pinggir jembatan. 

Dalam secarik kertas sederhana, Devita menumpahkan isi hatinya yang selama ini mungkin tak pernah ia utarakan kepada dunia.

“Aku pergi ya, jangan salahkan keluarga atau tempat instansi aku kuliah. Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri… Maaf untuk Bapak Dr. Sumardiyono, S.Km karena telah menghianati dan berjanji untuk bertahan… Aku capek, Bu. Maaf aku tak sekuat ibu," demikian isi surat wasiat tersebut.

Dalam surat wasiat tersebut disebutkan nama yang diyakini sebagai dosennya, Dr. Sumardiyono, yang juga tercatat sebagai pembimbing skripsinya. Devita menulis tentang janji yang tak sanggup ia tepati dan rasa kecewa yang dalam, seolah ia merasa telah mengecewakan semua orang, termasuk dirinya sendiri.

Surat ini tidak hanya menggambarkan kepedihan yang mendalam, tetapi juga memberikan potret nyata betapa sunyinya perjuangan batin seseorang yang tampak 'baik-baik saja' di luar.

Dibalik IPK 3,8 dan Skripsi Selesai: Derita yang Tak Terlihat

Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui juru bicara resmi Prof. Dr. Agus Riwanto, S.H., M.H., mengkonfirmasi bahwa Devita merupakan penerima beasiswa KIP-K, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,8. 

Skripsinya telah selesai, dan ia hanya tinggal mengurus administrasi wisuda. Namun di balik pencapaian akademik itu, ternyata tersembunyi luka batin yang tak terobati.

Dr. Sumardiyono, dosen sekaligus Wakil Dekan Kemahasiswaan Sekolah Vokasi UNS, mengaku tidak sepenuhnya terkejut. Ia mengetahui bahwa Devita pernah mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hidup pasca sidang skripsi.

Namun upaya itu tampaknya tak cukup untuk menahan beban yang terus menggerogoti mental Devita. Banyak pihak kini mempertanyakan, apakah cukup dukungan yang diberikan kampus terhadap mahasiswa yang mengalami tekanan mental?

Saksi Mata dan Detik-Detik Menegangkan

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore