Praka Riswandi Manik oknum Paspampres yang menganiaya Imam Masykur (Instagram @riswandimanik)
JawaPos.com - Pomdam Jaya Jayakarta sejauh ini menduga motif penculikan dan pembunuhan Imam Masykur hanya karena persoalan ekonomi berupa pemerasan untuk mendapat uang tebusan. Berdasarkan pemeriksaan awal tidak ditemukan adanya motif lain.
"Tidak ada (motif lain), tidak ada dendam, tidak ada, yang kami dapati hasil penyelidikan tidak ada dendam, tidak ada sentimen kedaerahan, karena mereka (pelaku) pun juga background orang Aceh," kata Danpomdam Jaya Kolonel Cpm Irsyad Hamdie Bey Anwar kepada wartawan, Rabu (30/8).
Penyidik militer juga belum bisa menyimpulkan pembunuhan kepada Imam sudah direncanakan atau spontanitas. Proses pendalaman kasus masih berlangsung.
"Makanya itu nanti kita dalami, apakah pembunuhan berencana atau penculikan yang direncanakan itu masih kita dalami, kalau memang pembunuhan berencana tentunya harus ada bukti lain," jelas Irsyad.
Sebelumnya, seorang pemuda berusia 25 tahun bernama Imam Masykur, warga Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, Aceh, dilaporkan meninggal dunia. Korban diculik dan dianiaya sejumlah oknum anggota militer. Salahsatunya dari satuan pengamanan presiden (Paspampres) bernama Riswandi Manik dengan pangkat praka.
Akun media sosial X (dulu Twitter) bernama @Aceh mengungkapkan, oknum tersebut terdiri atas 3 orang TNI yaitu 1 dari Paspampres dan 2 orang lagi anggota TNI.
Berdasar informasi dari akun tersebut, kejadian bermula saat korban dilaporkan menghilang dan diduga diculik pada 12 Agustus di kawasan Rempoa, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Setelah itu, keluarga korban mengaku masih menerima telepon dari korban.
Saat itu korban menyebutkan sedang dianiaya pelaku yang menjemputnya secara paksa. Para pelaku juga mengirimkan pada keluarga korban video penyiksaan yang akhirnya saat ini viral di media sosial.
Video pertama memperlihatkan korban dipukul berulang kali di bagian punggung menggunakan benda tumpul. Saat yang bersamaan pelaku mengancam pihak keluarga untuk segera mentransfer uang tebusan Rp 50 juta. Pelaku tersebut juga mengatakan apabila uangnya tidak segera dikirimkan, korban akan dihabisi kemudian dibuang ke sungai.
Di video lain terlihat punggung korban yang sudah dipenuhi luka lebam dan berdarah. Korban juga diketahui menelepon temannya guna meminta bantuan agar dapat meminjamkan sejumlah uang sesuai permintaan pelaku. Dia mengaku sudah tidak kuat disiksa lagi.
Setelah itu, korban tidak dapat dihubungi dan tidak kunjung pulang ke rumah. Akhirnya pihak keluarga yang diwakili Said Sulaiman melaporkan kejadian tersebut ke Polda Metro Jaya pada 14 Agustus.
Namun setelah berhari-hari tidak ada kabar dari korban, baru pada 24 Agustus pihak keluarga korban mendatangi RSPAD Jakarta Pusat guna menjemput Imam Masykur yang telah meninggal.