Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Maret 2017 | 13.29 WIB

Diiming-iming Rp 10 Juta, Diminta Ngaku Gila

BUKTI MEDIS: Sri Rabitah saat menunjukkan hasil rontgen yang dilakukan di RSUP NTB beberapa waktu lalu. - Image

BUKTI MEDIS: Sri Rabitah saat menunjukkan hasil rontgen yang dilakukan di RSUP NTB beberapa waktu lalu.

JawaPos.com - Sri Rabitah, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Lombok Utara, berhasil menjalani operasi dengan selamat. Slang DJ stent dan batu di dalam tubuhnya dapat dikeluarkan. Kini dia memasuki masa pemulihan. 



Koordinator Badan Bantuan Hukum Buruh Migran (BBHBM) M. Saleh yang mendampingi Sri Rabitah menyatakan, kondisi kliennya sekarang sudah mulai pulih setelah menjalani operasi kemarin pagi (2/3) di salah satu rumah sakit swasta di Kota Mataram Operasi berlangsung 3 jam 45 menit, jauh lebih lama daripada perkiraan awal yang hanya 15 hingga 30 menit. "Sekarang Sri Rabitah sudah ada di ruangan dengan didampingi teman-teman," katanya kemarin. 



Saleh menjelaskan, tempat operasi Sri Rabitah dipindahkan dari RSUP NTB ke rumah sakit swasta bukan karena pihak keluarga dan kuasa hukum tidak memercayai tim medis dari rumah sakit pemerintah. Namun, hal tersebut dilakukan semata-mata untuk kenyamanan korban. Sri Rabitah merasa tidak nyaman di RSUP karena beberapa kali ada orang tidak dikenal yang datang melakukan intimidasi. "Persoalan tempat, dia butuh yang lebih privasi," katanya. 



Saat dirawat di RSUP beberapa waktu lalu, saat tim pendamping keluar ruang perawatan, Rabitah dan keluarganya sempat didatangi beberapa orang tidak dikenal. Orang tersebut mengiming-imingi keluarga dengan uang Rp 10 juta asal mau mengatakan bahwa Rabitah mengalami gangguan jiwa. Selain itu, Rabitah terus-menerus mendapatkan teror melalui telepon sehingga ketakutan. "Tidak sekali dua kali ini terjadi. Kami khawatir keselamatan dan psikologis korban terganggu." 



Saleh menyatakan tidak ingin menyampaikan hal-hal terkait medis yang dapat menimbulkan debat panjang antara kuasa hukum dan pihak dokter RSUP NTB. Dia menyerahkan sepenuhnya masalah medis ke tim dokter. "Yang jelas, korban sudah mulai pulih," katanya. 



Saleh mengungkapkan, pascaoperasi, pendamping belum bertemu langsung dengan dokter untuk mengetahui hasil pemeriksaan terhadap ginjal Rabitah. Informasi tersebut harus dijelaskan secara medis oleh tim dokter. Namun, yang jelas, pengangkatan batu yang menempel di DJ stent cukup banyak. 



Menurut dia, yang dialami Rabitah saat ini tidak terjadi begitu saja. Salah satu temuannya, sejak awal sudah ada proses manipulasi data terhadap korban. Sri Rabitah yang berasal dari Lombok Utara ditulis dari Sesela, Gunung Sari, Lombok Timur. Kalau sejak awal sudah ada manipulasi dokumen, tahap pengiriman korban selanjutnya akan bermasalah. Dari awal, korban bersama teman-temannya bakal bekerja di Abu Dhabi, bukan ke Qatar. Kenyataannya, mereka dikirim ke Qatar. Padahal, tidak mudah mengubah tujuan penempatan TKI. Bagi Saleh, hal tersebut merupakan sebuah kejanggalan. Secara tidak langsung, itulah penyebab Sri Rabitah mengalami kasus ginjal saat ini. 



"Saya meminjam istilah Direktur Perlindungan WNI di Luar Negeri Bapak Iqbal, ini trafficking for organ removal atau perpindahan organ," katanya. 



Dengan pemalsuan data itu, pihak majikan di luar negeri dengan mudah melakukan sesuatu kepada korban. Sebab, si majikan merasa tidak akan ada yang menggugat. Apakah akan dipindah-pidahkan ke tempat lain, tidak diberi gaji, dan sebagainya. Termasuk perpindahan organ dalam tubuh korban. 



"Tapi, saya belum punya hasil. Apakah benar, ginjal kanan punya orang lain dan ginjal kiri punya Rabitah. Tapi, faktanya, dia kemudian sakit," kata Saleh. 



Mengenai tidak adanya torehan bekas operasi, tim pendamping hingga saat ini masih percaya pengakuan Sri Rabitah, yakni pernah mengalami operasi dan sempat melihat bekas jahitan di sebelah kanan tubuhnya, tapi kemudian menghilang saat dibawa ke dalam sebuah ruangan canggih untuk menghilangkan bekasnya. "Saya curiga itu menggunakan laser, karena banyak sekali laser untuk operasi kecantikan. Tidak ada bekasnya," ujar Saleh. 



Kejanggalan yang sangat berpengaruh adalah saat korban bekerja pada majikan di Qatar. Selama tujuh hari bekerja, Sri Rabitah lima hari berada di majikan pertama dan dua hari di rumah ibu majikan. Karena itu, tidak masuk akal jika Rabitah tiba-tiba dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan yang sangat detail. 



Kala itu, menjelang magrib, korban dibawa ke Rumah Sakit Hamad Qatar. Saat itu dia diminta langsung untuk puasa. Itu sebuah kejanggalan. Sebab, sebelumnya korban tidak pernah mengalami sakit apa pun. Bahkan, sampai operasi selesai hingga saat ini, korban tidak pernah diberi tahu penyakitnya oleh pihak medis di Qatar. Lama dibius pun, menurut Saleh, masih perlu dipertanyakan. Sebab, bisa jadi korban pingsan dalam waktu cukup panjang sehingga ada peluang untuk pertukaran organ. "Ini penting menurut saya untuk dicari lebih jauh," katanya. 



Ketua Perhimpunan Pancakarsa Endang Susilawati menambahkan, kejanggalan lain adalah sepulang dari rumah sakit, Rabitah tidak kembali ke rumah majikan, tapi diantar petugas sekuriti langsung ke agen pengerah tenaga kerja. Di sana koper korban sudah disiapkan. 



Sampai di kantor agen, Rabitah disuruh langsung bekerja. Sebenarnya, ada hak korban untuk mengetahui dia sakit apa. Slang di dalam tubuh juga tidak pernah diberitahukan. Padahal, slang DJ stent itu paling lama bertahan di dalam tubuh manusia hanya satu bulan. Tapi, selama tiga tahun mengalami sakit, Rabitah baru kemudian mengetahui ada slang di tubuhnya. 

Editor: Thomas Kukuh
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore