
BERCENGKERAMA: Sejumlah buruh gendong di Pasar Legi tengah bercengkerama sembari menunggu orderan.
JawaPos.com - Kebakaran menghanguskan Pasar Legi, Solo, Jawa Tengah (Jateng). Bencana tidak hanya berdampak kepada para pedagang. Tetapi banyak pihak yang turut merasakannya.
Salah satunya adalah buruh gendong. Selama ini, buruh gendong mempunyai peran krusial dalam aktivitas jual beli di Pasar Legi. Mereka yang mengantarkan barang dari tempat penjual sampai ke mobil pembeli. Atau membawakan barang dari pedagang di luar pasar, dan dibawa masuk ke dalam pasar.
Di Pasar Legi, ada lebih dari 200 buruh gendong. Mereka rata-rata sudah berusia di atas 40 tahun. Selain pria, buruh gendong juga banyak yang perempuan. Mereka biasanya sudah menjadi buruh gendong sejak belasan tahun lalu.
Selama ini para buruh gendong menggantungkan hidupnya di Pasar Legi. Semakin ramai pasar, maka upah yang diterima juga semakin besar. Meskipun upah untuk sekali gendong tidaklah besar. Hanya Rp 4.000 untuk barang seberat 100 kilogram. Jarak yang ditempuh buruh gendong rata-ratalebih dari 20 meter. Dari dalam pasar sampai ke Jalan S. Parman di depan pasar.
Meski upah yang didapatkan sekali gendong tidak besar, setidaknya setiap buruh gendong bisa membawa pulang Rp 50 ribu setiap harinya. Itu dirasa sudah cukup untuk membuat ekonomi tetap berputar.
Namun dengan terbakarnya Pasar Legi, otomatis orderan juga menurun drastis. Para buruh gendong pun bingung akan mencari nafkah di mana lagi. Mengingat selama ini mereka hanya terpaku pada aktivitas jual beli di Pasar Legi.
Tukiyem mengaku sudah menjadi buruh gendong selama lebih dari 20 tahun. Bahkan sebelum berusia 20 tahun, dia sudah menjadi buruh gendong. Nenek 55 tahun itu menjadi buruh gendong karena diajak kakaknya.
Selama ini, Tukiyem menjadi buruh lepas dari pedagang bernama Pak Aher. "Biasanya membawa kerupuk, tepung, kecap dan juga barang dagangan lainnya," urainya kepada JawaPos.com saat ditemui di Pasar Legi.
Dengan terbakarnya Pasar Legi, Tukiyem tidak lagi berharap banyak. Terlebih pedagang yang selama ini menggunakan jasanya juga menjadi korban kebakaran. Otomatis dirinya kehilangan order dari pedagang tersebut.
"Kalau rata-rata sehari bisa bawa pulang Rp 50 ribu. Untuk sekali gendong tarifnya Rp 3.000 dan ini juga sudah langganan," terang Tukiyem yang merupakan warga, Sadon, Boyolali tersebut.
Hal yang sama diungkapkan buruh gendong lainnya, Wakini,50. Dia tetap datang ke pasar meskipun kondisi pasar ludes terbakar. Jika beruntung, Wakini akan mendapatkan order dari pedagang lainnya. Tapi melihat kondisi pasar yang terbakar dan tidak adanya aktivitas, sulit rasanya mendapatkan order untuk gendong.
"Ya tetap datang saja. Kalau pedagang tidak ada, ya tidak menggendong. Biasanya menggendong bawang merah, bawang putih, dan barang yang lainnya," ungkap warga Winong, Karanganyar itu.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
