JawaPos Radar

Sisa-sisa Gempa Lombok: Jalan dan Jembatan Retak

30/08/2018, 16:14 WIB | Editor: Ilham Safutra
Sisa-sisa Gempa Lombok: Jalan dan Jembatan Retak
anggota polisi membantu warga membersihkan puing- puing reruntuhan rumah di Desa Guntur Macan, Lombok Barat, kemarin (29/8). (IVAN MARDIANSYAH/LOMBOK POST/JAWA POS GROUP)
Share this image

JawaPos.com - Dampak dari gempa yang berturut-turut di tanah Lombok yakni kerusakan jalan. Lokasi terparah terdapat di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) dan Lombok Utara (KLU). Hingga kemarin sejumlah ruas jalan rusak dan retak-retak.

Pantauan Jawa Pos, kondisi itu terlihat di jalan raya sepanjang KLU hingga Lotim. Di KLU misalnya, permukaan jalan yang retak-retak merata di semua kecamatan.

Mulai dari Kecamatan Pemenang, Tanjung, Gangga, Kayangan, hingga Bayan. "Retak karena dampak gempa," kata Camat Gangga Ahmad Suhadi.

Sisa-sisa Gempa Lombok: Jalan dan Jembatan Retak
Sejumlah wisatawan membersihkan reruntuhan di dekat pantai Gili Trawangan, Lombok Utara, Selasa (28/8). (IVAN MARDIANSYAH/LOMBOK POST/JAWA POS GROUP)

Mayoritas garis rekahan melintang membelah badan jalan. Ada juga yang rekahannya menjulur memanjang mengikuti permukaan aspal.

Yang paling rawan justru jembatan. Dari pantauan Jawa Pos, hampir semua jembatan terlihat retak-retak. Retakannya cukup lebar. Misalnya, di Jembatan Tampes, Kayangan, aspal jembatan retak cukup lebar. "Sangat rawan ambruk. Sebagian kaki beton jembatan sudah lepas," tutur Koordinator Lapangan PMI Wilayah KLU Agus Wadu Kusuma.

Pihaknya berharap pemerintah segera melakukan perbaikan. Atau mengurangi beban tonase kendaraan yang melintas di jembatan itu. Jika terus melebihi beban, kaki jembatan dikhawatirkan ambruk sewaktu-waktu.

Pemandangan serupa tampak di wilayah Kecamatan Sambelia, Lotim. Salah satunya di Desa Madayin. Di sana, ada dua jembatan yang retak-retak. Yaitu, Jembatan Kokoq Bosang sepanjang 150 meter dan Jembatan Beburung dengan panjang 120 meter.

Selain itu, bahaya mengintai dari bukit-bukit yang rawan longsor. Di sejumlah titik di wilayah KLU misalnya. Bukit longsor terjadi di Dusun Sidutan Kayangan. Di sana, bukit setinggi 70 meter longsor dan menimbun setengah ruas jalan raya.

Pengguna jalan pun harus ekstrahati-hati. Pengguna jalan dari arah berlawanan harus berjalan pelan secara bergantian. "Bukit ini longsor sejak gempa 5 Agustus lalu," jelas Agus.

Selain infrastruktur, sektor lain yang sangat terganggu oleh dampak gempa adalah pariwisata. Aktivitas wisata sampai sekarang lumpuh. Tempat-tempat wisata yang biasanya selalu ramai kini sepi.

Salah satunya desa wisata petik buah Desa Sembalun, Kecamatan Sembalun, Lotim. Puncak kunjungan biasanya terjadi selama Agustus. Namun, saat ini kawasan yang berada di kaki Gunung Rinjani itu sepi. "Kalau sore begini, kendaraan parkir selalu penuh di tepi jalan. Sekarang nggak ada," kata Muhali, salah seorang petani stroberi, kepada Jawa Pos.

Padahal, buah stroberi milik para petani, kata dia, siap dipanen. Kini petani pun bingung. Selain sepi pengunjung, tidak ada pengepul yang datang membeli buah. Salah satu faktornya adalah kawasan wisata Gili Trawangan yang sepi. "Biasanya dikirim ke hotel-hotel di gili. Sekarang hotel tutup semua," ujar pria 45 tahun itu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lombok Utara Muhammad membenarkan aktivitas wisata masih lumpuh. Pihaknya berupaya untuk membangkitkan kembali potensi pariwisata.

Sejauh ini disbudpar telah mengumpulkan seluruh asosiasi perusahaan hotel. Terutama di kawasan tiga gili. Yakni, Gili Trawangan, Gili Air, dan Gli Meno. Hampir 100 persen potensi wisata di kabupaten yang berdiri pada 2008 itu terfokus di tiga gili tersebut. "Kami optimistis aktivitas wisata segera pulih. Bantu kami untuk bangkit lagi," ujar Muhammad.

Sektor kesehatan juga demikian. Sejumlah rumah sakit pemerintah memberikan pelayanan kesehatan di tenda-tenda. Misalnya, di RSUD Tanjung KLU, RSUD Kota Mataram, dan RSUD dr Soedjono Selong Lotim. Itu disebabkan kondisi rumah sakit rusak berat. "Kami melakukan antisipasi. Sehingga pelayanan ke pasien dilakukan di tenda-tenda," papar Direktur RSUD dr Soedjono Selong dr Karsito SpPD.

(mar/c6/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up