
Warga mengadang truk yang akan melintas ke arah Parungpanjang, Sabtu (22/9). Truk dilarang meliantas, karena warga masih marah atas kecelakaan yang menewaskan warga setempat pada Juamt (21/9).
JawaPos.com - Sudah hampir dua pekan Ridwan Kamil menjabat sebagai gubernur di Jawa Barat (Jabar). Hadirnya mantan Wali Kota Bandung itu di provinsi bagian barat Jawa itu menjadi harapan besar bagi warga perbatasan. Terutama mereka yang berbatasan dengan ibu kota Jakarta atau yang menjadi bagian dari Jabodetabek.
Salah satunya harapan dari warga Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Kecamatan ini bersebelahan langsung dengan Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten. Tapi nasib warga di sana sangat memiriskan dan jauh dibandingkan Kota Bandung ataupun Kota Bogor.
"Kalau Kota Bogor disebut kota hujan, di sini kota debu," ungkap Suhanda, 38, salah seorang warga Parung Panjang kepada JawaPos.com, Sabtu (22/9).
Pernyataan Suhanda itu merupakan ungkapan keluh kesah warga setempat yang tidak tahan dengan kondisi daerah yang penuh dengan kepulan debu. Sebab di sebuah jalan raya yang melintang di Parung Panjang ini dilintasi setiap hari oleh ribuan truk pengangkut material tambang galian C. Berupa tanah, batu kali, pasir, dan sejenisnya.
Jalan yang melintang itu menghubungi dua kabupaten dan dua provinsi. Di jalan tersebut ribuan truk melintas setiap harinya dari arah Kecamatan Jasinga dan melintas ke arah Parungpanjang hingga ke Kecematan Legok, Kabupaten Tangerang.
Jika dari arah Legok jalan tersebut bernama Jalan Raya Parung Panjang. Namun setelah di wilayah Parungpanjang, namanya menjadi Jalan M Toha dan Jalan Sudamanik. Di sepanjang jalan itu terdapat depo atau pangkalan persingahan truk pemuatan pasir atau batu galian C.
Semua truk itu memuat material dan melintas di jalan raya Parung Panjang, kendaraan itu mencemarkan jalan. Di sepanjang jalan, debu-debu hinggap ke hidung orang. Saking banyak truk melintas setiap hari dan setiap jam, rumah-rumah di pinggir jalan itu dindingnya sangat berdebu tebal. Bahkan kantor pelayanan publik di sana, seperti Markas Polsek, Markas Koramil, Puskesmas, dan Kantor Camat tidak indah lagi dipandang. Lebih tebal debu dari pada warna catnya.
Pada Jumat (21/9) malam, warga Parungpanjang bergejolak. Mereka nyaris berbuat anarkistis. Hal itu dipicu adanya sebuah kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia secara mengenaskan. Korban yang merupakan warga Perumnas 2 Parungpanjang itu diketahui mengendarai sepeda motor. Dia terlintas truk pengangkut material tambang galian yang tidak mampu mengendalikan laju kendaraannya.
Atas kejadian itu warga setempat pun sempat memblokade jalan dan men-sweeping setiap truk yang melintas. Saking emosinya warga, anggota polisi dari Polsek Parungpanjang pun harus turun dan mengamankan warga.
Kata Suhanda, kecelakaan itu bukan yang pertama. Melainkan sudah kesekian kalinya. Bahkan tiga minggu terakhir sudah ada delapan orang kehilangan nyawa akibat melintas di Jalan raya Parungpanjang. "Enam korban terjadi di Malang Nengah (Tangerang), dua di Parung Panjang," sebut ayah satu anak itu.
Semua kecelakaan itu rata-rata akibat bersenggolan dan tertabrak truk pengangkut material galian tambang. Kecelakaan yang sering berujung dengan maut itu, akibat dari truk pengangkut material galian membawa muatan di atas kapasitasnya. Bak truk tidak pernah ditutup sehingga pasirnya mudah jatuh menjadi sumber polusi udara.
Selain itu pengemudi truk pengangkut tambang itu kerap sopir tembak. Wigianto, 40, warga Parungpanjang lainnya menyebut banyak masyarakat melihat sopir truk pengangkut tambang itu berusia muda. Mereka mengemudi sangat emosional dan tidak sabar.
Buktinya ketika berpapasan dengan kendaraan lebih kecil terutama sepeda motor, truk itu tidak pernah mengalah. "Malah truk ini semakin ngebut. Padahal lebar jalan sangat sempit. Hal itu membuat pengendara sepeda motor mudah kaget dan hilang kendali," terang Wigiyanto.
Dia menuturkan, hampir tidak pernah warga mendapatkan udara bersih. Sebab truk yang melintas hampir tidak ada hentinya. Terutama di siang hingga malam hari.
"Kalau pagi dari pukul enam sampai sembilan intensitas truk melintas memang rendah. Setelah itu truk akan melintas tiada henti," beber pria yang biasa disapa Wigi itu.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
