
Salah seorang mahasiswa mengalami luka akibat bentrok dengan pihak kepolisian di depan DPRD Riau, saat menggelar aksi demonstrasi terkait Hari Tani ke-58, Senin (24/9).
JawaPos.com - Ribuan mahasiswa terlibat bentrok dengan aparat kepolisian, saat menggelar aksi demonstrasi yang bertepatan dengan Hari Tani ke-58 di depan kantor DPRD Riau, Senin (24/9). Akibatnya, tiga orang mahasiswa mengalami luka.
Ketiga mahasiswa tersebut yakni, Kurnia Zenmiza dari Fakultas Matematika dan Ilmu Alam (FMIPA) Universitas Riau (UNRI); Nurfanto dari Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) dan Romidal dari Fakultas Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI).
Bentrokan antara mahasiswa dan polisi bermula ketika mahasiswa melakukan orasi. Dimulai dengan aksi saling dorong dan pelemparan botol air mineral maupun sepatu tampak berterbangan.
Kurnia Zenmiza salah seorang mahasiswa mengatakan, dirinya terluka ketika berada di barisan paling depan. Saat itu mahasiswa dan polisi saling dorong mendorong. Hingga akhirnya ia terjatuh. "Saya diinjak, ada polwan yang pukul pakai kayu. Celana saya ditarik sampai robek," kata dia, Senin (24/9).
Akibatnya, beberapa bagian tubuhnya terasa sakit. Diantaranya, pipi memar dan dada terasa sesak. Kurnia pun langsung digiring oleh rekannya ke ambulans. Kurnia dan dua rekannya yang terluka ditempatkan di satu ambulans. Kemudian mereka dibawa ke rumah sakit terdekat.
Pada aksi kali ini, ribuan mahasiswa menuntut, agar pemerintah dapat menuntaskan target program Perhutanan Sosial seluas 4,38 juta ha dan Tanah Objek Reforma Agraria seluas 9 juta hektar.
Kemudian, mahasiswa menuntut pemerintah untuk menyelesaikan konflik agraria di Riau. Selain itu juga, menuntut Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menerbitkan Peraturan Presiden terhadap retrstribusi reforma agraria di Provinsi Riau.
Mereka juga menuntut pemerintah, untuk membuat sentra-sentra produksi lokal atas pangan, sebagai upaya peningkatan ketahanan pangan di Indonesia. Serta menuntut pemerintah dalam menstabilkan nilai perekonomian nasional.
Selain itu, mahasiswa juga mengecam segala tindakan pengebirian demokrasi; ancaman-ancaman premanisme; regulasi yang mengkoptasi kegiatan mahasiswa di dalam kampus ataupun di luar kampus. Hal itu, dianggap menyebabkan ruang-ruang aspirasi dan pergerakan di belenggu.
Massa aksi juga mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian, serta Kapolri untuk mencopot setiap polisi yang bertindak represif. Terakhir, mereka meminta Kapolri serta Presiden Republik Indonesia meminta maaf secara terbuka kepada mahasiswa se-Indonesia terhadap tindakan represif di Medan pada Kamis, 20 September 2018 kemarin.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
