
LB dibonceng oleh Kanit Reskrim Polsek Poncokusumo Aiptu Andik Risdianto sesaat setelah ditemukan.
JawaPos.com - Polisi masih mendalami kasus penculikan yang dilakukan oleh Sobirin, 44, seorang guru MI di Pakisaji Malang. Tidak hanya membawa kabur muridnya berinisial LB ke Lembah Pani, Sobirin ternyata juga sempat mengancam dan menampar korban.
Kasatreskrim Polres Malang AKP Adrian Wimbarda menjelaskan, tersangka mengancam akan meninggalkan korban di hutan. "Jika korban tidak ikut naik ke atas, tersangka akan meninggalkan LB di hutan selama sebulan," jelas Adrian kepada JawaPos.com, Minggu petang (23/9).
Salah seorang sumber JawaPos.com di internal kepolisian menceritakan, LB sempat menangis. Dia meminta Sobirin agar mengantarnya pulang. Namun permintaan ini tidak digubris oleh pelaku. Sobirin tetap mengajak LB ke Poncokusumo.
Sobirin kemudian mengajak LB ke sungai yang ada di kawasan Poncokusumo. Tak lama kemudian, mereka kembali ke rumah kerabat Sobirin yang sebelumnya dijadikan tempat singgah.
Di sana LB terus saja menangis. Bahkan dia menolak makanan dan minuman yang diberikan tuan rumah. Demikian pula ketika korban diberi uang untuk jajan, penghobi musik itu tetap menangis dan meminta pulang.
Tidak mengindahkan permintaan siswa kelas IV itu, Sobirin justru mengajak korban ke tengah hutan yang berada di Poncokusumo. Setelahnya, pelaku mengajak korban berjalan menyusuri hutan.
Di tengah hutan, Sobirin mendirikan tenda untuk istirahat. Dia berjanji jika LB menurut padanya, akan dipulangkan hari Senin. "Korban bahkan ditampar mulutnya oleh pelaku karena terus merengek pulang," ungkap sumber internal kepolisian tersebut.
Sementara itu, berdasarkan pengakuan LB, saat berada di Lembah Pani dia hanya mengenakan seragam putih merah. Seragam itu pula yang dikenakannya saat Sobirin menjemput di kelas, Rabu (19/9).
Di lembah yang jauh dari jangkauan manusia tersebut, LB dan Sobirin hanya mengonsumsi mi instan yang dibawa oleh tersangka selama tiga hari dua malam.
Mereka menggunakan kompor portable mini, untuk memasak. Agar terlindung dari cuaca buruk, keduanya berlindung di tenda yang dibangun tersangka.
Sebenarnya, bocah itu sudah mendengar ada orang meneriakkan namanya. "Hanya saja LB takut menyahut karena diminta diam oleh tersangka," tambah sumber tersebut.
Seperti diberitakan, sejak Rabu (19/9), LB dilarikan oleh gurunya sendiri ke Lembah Pani, Poncokusumo, Kabupaten Malang. Hilangnya siswa berbadan tambun itu dilaporkan kepada Polres Malang Kamis (20/9).
Tim segera dibentuk dan dibantu warga, mereka menyisir ke sejumlah lokasi. Akhirnya, korban dan tersangka berhasil diamankan Sabtu (22/9) siang.
Tersangka terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas karena berusaha melawan dan kabur saat akan ditangkap. Timah panas bersarang di kaki kanannya.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
