Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 September 2018 | 19.29 WIB

700 Penari Ikuti Bandung International Dance Competition

700 penari meriahkan 700 Penari Ikuti Bandung International Dance Competition (BIDC) di Dago Tea House, Bandung. - Image

700 penari meriahkan 700 Penari Ikuti Bandung International Dance Competition (BIDC) di Dago Tea House, Bandung.

JawaPos.com - Panggung Dago Tea House Tertutup seolah menjadi saksi bisu dalam kemeriahan Bandung International Dance Competition (BIDC). Tercatat, ada 700 dancer memeriahkan acara yang dihelat sejak Jumat (21/9) itu. Mereka akan berkompetisi hingga hari ini (Minggu, 23/9).


Genre yang dibawa oleh para dancer beragam. Diantaranya ballet, hiphop, jazz, tradisional, hingga kontemporer. Bukan hanya dari segi genre yang beragam namun formasi pun demikian. "Kami ada duo, solo, dan group," tutur Chaiman of Bandung International Dance Competition Herman Susilo Haslim kepada Jawa Pos, pada Sabtu (22/9).


Menurut dia, BIDC merupakan bentuk kompetisi yang unik. Sebab dalam kompetisi tersebut mengumpulkan beragam genre dance. Tidak banyak kompetisi yang mempertemukan beragam aliran pada satu stage. Sehingga, kata dia, audience dan para peserta mampu saling belajar terhadap beragam genre. 


Selain itu, kompetisi dance tingkat internasional tersebut juga kali pertama digelar di Kota Kembang. Dia menyatakan alasan mengapa pihaknya memilih Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan. "Kami ambil (Bandung, red) karena kota ini terkenal kreatif. Tapi belum pernah ada lomba tari internasional," terangnya. 


Pemilik sanggar itu mengklaim animo masyarakat sangat baik terhadap event tersebut. Hal itu ditunjukkan dengan jumlah peserta yang mencapai 700 orang. "Dari sisi peserta, total nomor ada 400-an. Dan, ini lintas genre sekali lagi," bebernya. 


Sebenarnya, masih kata Herman, juri dari Indonesia juga ada. Jadi bukan hanya dari luar Indonesia. Juri asal Indonesia tampak hadir Hamdi Fabas dari Founder Bboy Indonesia dan Wied Sendjayani Founder Dance Company. Nah, untuk nama-nama juri Internasional ada Jeffrey Tab Principal Jeffrey Dance Academy (Singapura), Keiji Tomiyama Founder of Tomiyama School of Ballet (Jepang), dan Karen Malek Director of Transit Dance (Australia). 


Dia menyampaikaan bahwa setiap juri memiliki karakter yang berbeda-beda. Terutama dalam hal genre dance. "Ada yang memang fokus ke ballet, misalnya seperti Karen," imbuhnya.


Saat showing off, Herman menyebutkan, para penampil diberi batas waktu untuk perform maksimal dua menit. Sementara itu, untuk asal peserta pun beragam. "Ada dari Malaysia dan Singapura," tambahnya. 


Ada salah satu peserta asal Indonesia yang paling jauh datang ke BIDC. Yakni dari sekolah Jenisha Dance Center, Kupang, NTT. "Saya datang 19 September. Lalu disusul sama anak didik dari Jenisha," ungkapnya ketika ditemui di backstage.


Jenisha didirikan olehnya pada 18 tahun silam. Dia menyebutkan, event BIDC menjadi agenda kali pertama Jenisha ikut kompetisi. "Pertama juga ke Bandung," tambahnya.

Editor: Erna Martiyanti
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore