
700 penari meriahkan 700 Penari Ikuti Bandung International Dance Competition (BIDC) di Dago Tea House, Bandung.
JawaPos.com - Panggung Dago Tea House Tertutup seolah menjadi saksi bisu dalam kemeriahan Bandung International Dance Competition (BIDC). Tercatat, ada 700 dancer memeriahkan acara yang dihelat sejak Jumat (21/9) itu. Mereka akan berkompetisi hingga hari ini (Minggu, 23/9).
Genre yang dibawa oleh para dancer beragam. Diantaranya ballet, hiphop, jazz, tradisional, hingga kontemporer. Bukan hanya dari segi genre yang beragam namun formasi pun demikian. "Kami ada duo, solo, dan group," tutur Chaiman of Bandung International Dance Competition Herman Susilo Haslim kepada Jawa Pos, pada Sabtu (22/9).
Menurut dia, BIDC merupakan bentuk kompetisi yang unik. Sebab dalam kompetisi tersebut mengumpulkan beragam genre dance. Tidak banyak kompetisi yang mempertemukan beragam aliran pada satu stage. Sehingga, kata dia, audience dan para peserta mampu saling belajar terhadap beragam genre.
Selain itu, kompetisi dance tingkat internasional tersebut juga kali pertama digelar di Kota Kembang. Dia menyatakan alasan mengapa pihaknya memilih Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan. "Kami ambil (Bandung, red) karena kota ini terkenal kreatif. Tapi belum pernah ada lomba tari internasional," terangnya.
Pemilik sanggar itu mengklaim animo masyarakat sangat baik terhadap event tersebut. Hal itu ditunjukkan dengan jumlah peserta yang mencapai 700 orang. "Dari sisi peserta, total nomor ada 400-an. Dan, ini lintas genre sekali lagi," bebernya.
Sebenarnya, masih kata Herman, juri dari Indonesia juga ada. Jadi bukan hanya dari luar Indonesia. Juri asal Indonesia tampak hadir Hamdi Fabas dari Founder Bboy Indonesia dan Wied Sendjayani Founder Dance Company. Nah, untuk nama-nama juri Internasional ada Jeffrey Tab Principal Jeffrey Dance Academy (Singapura), Keiji Tomiyama Founder of Tomiyama School of Ballet (Jepang), dan Karen Malek Director of Transit Dance (Australia).
Dia menyampaikaan bahwa setiap juri memiliki karakter yang berbeda-beda. Terutama dalam hal genre dance. "Ada yang memang fokus ke ballet, misalnya seperti Karen," imbuhnya.
Saat showing off, Herman menyebutkan, para penampil diberi batas waktu untuk perform maksimal dua menit. Sementara itu, untuk asal peserta pun beragam. "Ada dari Malaysia dan Singapura," tambahnya.
Ada salah satu peserta asal Indonesia yang paling jauh datang ke BIDC. Yakni dari sekolah Jenisha Dance Center, Kupang, NTT. "Saya datang 19 September. Lalu disusul sama anak didik dari Jenisha," ungkapnya ketika ditemui di backstage.
Jenisha didirikan olehnya pada 18 tahun silam. Dia menyebutkan, event BIDC menjadi agenda kali pertama Jenisha ikut kompetisi. "Pertama juga ke Bandung," tambahnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
