
Photo
JawaPos.com - Seruan pengerahan massa atau people power sempat mencuat bila terjadi kecurangan dalam Pemilu 2019. Hal itu ditanggapi sinis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur (Jatim). Sebab pesta demokrasi lima tahunan berjalan lancar dan tinggal menunggu rekapitulasi suara dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).
"Kami melihat sebuah pesta demokrasi harus berjalan dengan lancar. Tanpa ada provokasi dan intervensi untuk mengubah semua hasil," kata Ketua Umum PKC PMII Jatim Abdul Ghoni dalam siaran persnya.
Dengan menggunakan ancaman people power, justru menimbulkan kesan bahwa seolah-olah negara gagal menyelenggarakan Pemilu. Ancaman people power juga mencederai spirit demokrasi yang beralaskan konstitusi.
Sebab seluruh sengketa pemilu telah disediakan perangkat penyelesaiannya. Yakni melalui Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) hingga Mahkamah Konstitusi (MK).
Ajakan show of force usai pesta demokrasi harus dibaca sebagai upaya pendelegitimasian atas lembaga-lembaga negara. Atau bahkan upaya pembangkangan terhadap negara.
"Kami tidak menginginkan histori kejadian sebelumnya. Tentang penggerakan massa untuk menggugat ataupun tidak percaya terhadap hasil dari pesta demokrasi dan kekecewaan terhadap pemerintah," paparnya.
Contohnya, beberapa peristiwa kelam yang berlatar benturan politik kekuasaan. Mulai dari PRRI/Permesta, peristiwa Madiun 1948, hingga yang paling gelap gerakan 30 September 1965 yang hingga kini masih sering menjadi bahan gunjingan otoritas HAM internasional.
Hal itu amat disayangkan. Apabila Indonesia harus terlempar pada kubangan polemik masa silam di tengah percepatan pembangunan dan kontestasi ekonomi global yang kian sengit.
Untuk itu, PMII Jatim meminta elite politik tidak perlu lagi melancarkan isu people power. Karena memang Pemilu berjalan dengan lancar dan tinggal menunggu hasil dari KPU. "Mungkin sedikit beberapa titik ada kejadian-kejadian. Saya pikir pihak kepolisian maupun TNI sudah bisa meredamnya," imbuh Ghoni.
Di sisi lain, Ghon mengimbau kepada kader PMII dan seluruh mahasiswa agar berpikir cerdas dan bisa meredam konflik di level bawah.
"Sebagai agent of change, kontrol, dan agen sosial, bisa mengontrol agar people power tidak perlu terjadi. Kami harus bisa meredam konflik-konflik di bawah. Karena akan merugikan semua pihak," tandasnya.
"Kami juga tidak mau penggerakan massa dan penggerakan opini dimanfaatkan elite-elite politik. Kami menekankan kepada elite politik untuk tidak gaduh. Karena sangat berbahaya khususnya di wilayah akar rumput," sambung Ghoni.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor Valencia vs Real Betis di Liga Spanyol: Tuan Rumah Kesulitan Menang!
Prediksi Skor Malaga vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Super Depor Bisa Curi Poin
Prediksi Skor Bodo/Glimt vs NEC Nijmegen di Kualifikasi Liga Champions: Tuan Rumah Menang!
Prediksi Skor Sabah vs Hapoel Be'er Sheva di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
Prediksi Skor LASK Linz vs Celtic di Kualifikasi Liga Champions: Kans Berakhir Imbang!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Getafe vs Racing Santander di Liga Spanyol 2026/2027: Azulones Rawan Kecolongan!
Prediksi Skor Bologna vs Lazio di Liga Italia 2026/2027: Misi Sulit Gattuso Bersama Biancocelesti
