Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Januari 2020 | 20.06 WIB

Kerahkan Psikiater untuk Pulihkan Mental Korban Keraton Agung Sejagat

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - "Runtuhnya" Keraton Agung Sejagat (KAS) tak hanya menyeret sang raja dan permaisuri menjadi tersangka. Tapi, juga berimbas pada para penggawa yang menjadi korban penipuan.

Untuk membantu warganya yang turut menjadi korban KAS, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo menggandeng rumah sakit umum daerah (RSUD) setempat. Tujuannya, mendampingi eks pengikut kerajaan abal-abal yang dipimpin Totok Santoso itu.

Total pengikut KAS 450 orang. Dari jumlah tersebut, 66 orang merupakan warga Purworejo. Masing-masing mengalami kerugian materi berbeda-beda. Mulai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Banyak di antara mereka yang sampai harus mengorbankan harta benda. Mulai menjual sapi hingga sawah.

Selain itu, para korban menanggung beban moral dan sosial. Terutama di lingkungan sekitar mereka. Sebab, banyak opini yang beredar bahwa mereka menganut ajaran sesat.

Karena itu, Wakil Bupati Purworejo Yuli Hastuti memerintah setiap desa dan kecamatan untuk mendata warganya yang menjadi korban. ”Setelah dilakukan pendataan, nanti ada pendampingan dari pihak RSUD dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Purworejo,” katanya.

Jika memang ada warga yang kejiwaannya terganggu, lanjut Yuli, psikiater akan turun untuk menangani. Tentunya didampingi petugas puskesmas setempat.

Disinggung soal pengawasan perizinan bangunan keraton, Yuli menuturkan bahwa pihaknya kecolongan. Sebab, Totok bukan warga Purworejo. Pria 42 tahun itu diketahui ber-KTP Jakarta.

Hingga kini, lokasi KAS di Desa Pogungjurutengah, Kecamatan Bayan, Purworejo, masih ramai dikunjungi warga. Mereka datang dari berbagai kota, seperti Jogjakarta, Solo, dan bahkan Bandung.

Gayung bersambut, ramainya pengunjung itu pun dimanfaatkan warga untuk mengais rezeki. Banyak yang menjadi pedagang dadakan.

Area keraton dibagi menjadi dua tempat. Ruang sidang Gedung Sri Ratu Indratayana dan tempat padepokan. Khusus ruang sidang, para pengunjung hanya bisa melihat dari depan. Sebab, garis polisi masih terpasang di sana.

Dari penuturan warga dan eks pengikut, di dalamnya terdapat kursi raja. Ornamen dan bendera kerajaan juga terpasang. Jika dilihat dari luar, kondisinya tampak biasa. Tapi, saat masuk, begitu megah. ”Lengkap di dalamnya ada tempat raja dan permaisuri,” ucap Eko Pratolong, salah seorang eks pengikut KAS.

Sementara itu, di area padepokan terdapat tiang tinggi yang terbuat dari kayu. Menurut Sumarmi yang tinggal tak jauh dari sana, tiang itu akan menjadi cikal bakal padepokan. Selain itu, di sisi utaranya terdapat sendang. Lokasi tersebut digadang-gadang menjadi tempat pemandian abdi dalem keraton. Nah, yang menjadi pusat perhatian adalah prasasti batu besar dengan ukiran tulisan aksara Jawa.

Yang sempat menghebohkan warga adalah saat pemindahan batu tersebut. Menurut Sumarmi, prasasti itu diambil dari pegunungan sekitar Purworejo. Prosesnya pun tak mudah. Butuh 12 jam untuk membawa batu ke lokasi.

”Itu dibawa dengan menggunakan alat berat. Dari lokasi, batu tersebut langsung dibungkus dengan kain kafan,” katanya.

Photo

Siti Heriati menunjukkan sertifikat yang didapatkan dari KAS (WAHYU ZANUAR BUSTOMI/JAWA POS)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore