Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 Maret 2019 | 00.33 WIB

Perokok yang Mau Berhenti Masih Terhalang Stigma

Strategi yang digunakan dalam tobacco harm reduction cukup sederhana dan ditujukan untuk perokok yang mengalami kesulitan untuk berhenti dan dirancang untuk menawarkan perokok alternatif yang dapat memberikan pengalaman serupa - Image

Strategi yang digunakan dalam tobacco harm reduction cukup sederhana dan ditujukan untuk perokok yang mengalami kesulitan untuk berhenti dan dirancang untuk menawarkan perokok alternatif yang dapat memberikan pengalaman serupa

JawaPos.com - Konsep harm reduction telah diperkenalkan oleh para praktisi kesehatan sebagai salah satu alternatif solusi dalam mengurangi risiko kesehatan suatu kebiasaan. Namun stigma seputar konsep tersebut tampaknya justru menghambat tujuan baik dari konsep tersebut tercapai dengan efektif.


Salah satu contohnya terjadi pada pendekatan harm reduction yang diterapkan untuk pengonsumsian tembakau yang masih menerima banyak stigma.


Pembina Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) Dimasz Jeremia yang juga seorang mantan perokok aktif mengatakan, masih banyak yang berpikiran bahwa alternatif yang ditawarkan di sini sama bahayanya dengan rokok tembakau. "Meskipun sudah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa rokok elektrik dapat membantu perokok berhenti, mereka menolak untuk mempercayai hal tersebut,” katanya, Senin (18/3).


Menurut Dimasz, kesalahpahaman seperti ini terus menjadi tantangan yang signifikan bagi penerapan tobacco harm reduction dan pada akhirnya akan menghambat tujuan positifnya untuk tercapai. Harm reduction itu sendiri pada dasarnya bertujuan untuk mengurangi risiko yang berkaitan dengan suatu kebiasaan.


Dalam konteks tobacco harm reduction, pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi dampak negatif dari konsumsi rokok tembakau bagi kesehatan, dengan tujuan jangka panjang untuk membantu perokok keluar dari kebiasaannya.


Strategi yang digunakan dalam tobacco harm reduction cukup sederhana dan ditujukan untuk perokok yang mengalami kesulitan untuk berhenti dan dirancang untuk menawarkan perokok alternatif yang dapat memberikan pengalaman serupa dengan merokok untuk membantu mereka melalui proses transisi hingga berhenti secara total.


Contoh alternatif yang cukup dikenal oleh publik adalah penggunaan produk-produk seperti potentially reduced-exposure products (PREPs), terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy atau NRT), Electronic Nicotine Delivery System (ENDS), dan Heat not burn (HNB) sebagai alternatif pengganti rokok tembakau.

Metode ini diajukan sebagai bagian dari strategi tobacco harm reduction merujuk pada hasil studi Public Health of England pada tahun 2015 yang menemukan bahwa rokok elektrik 95 persen lebih rendah risiko dibandingkan dengan rokok konvensional.


Temuan ini kemudian didukung oleh penelitian oleh New England Journal of Medicine yang dipublikasikan bulan Januari lalu. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan rokok elektrik hampir dua kali lebih efektif dalam membantu perokok berhenti dibandingkan dengan produk-produk lain seperti NRT. “Namun sayangnya, temuan-temuan ini masih diabaikan oleh banyak pihak,” ungkap Dimasz.


Menurut Dimasz, selama ini perokok di Indonesia hanya diperlakukan dengan dua pilihan: berhenti atau terima konsekuensinya. Padahal, seharusnya ada pilihan lain di antara keduanya, yaitu pilihan untuk mengurangi sebelum akhirnya dapat berhenti secara total.


Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore