JawaPos Radar

Miris, Siswa SD di Gunungkidul 'Saweran' untuk Tambahan Upah Gurunya

Sebulan Hanya Digaji Rp 100 Ribu

14/09/2018, 20:24 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Saweran Murid SD
SAWERAN: Para siswa dari Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Jogjakarta rela 'saweran' menyisihkan uang jajannya sehari-hari untuk gurunya yang mendapat upah tidak seberapa dari sekolahan. (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com – Pemandangan tak biasa terjadi di Sekolah Dasar (SD) Mentel 1, Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Jogjakarta, Jumat (14/9). Pasalnya ratusan murid-murid sekolahan tersebut rela saweran, menyisihkan uang jajannya sehari-hari untuk diberikan kepada para gurunya yang tidak mendapatkan gaji tak seberapa dari pihak sekolahan.

Saat dikonfirmasi, Kepala Sekolah SD Mentel 1, Kamijan mengatakan kegiatan saweran tersebut sudah dilakukan sejak Maret lalu. Hal tersebut, imbuhnya juga sudah melalui kesepakatan dengan Komite Sekolah.

Dengan saweran tersebut, imbuhnya sedikit banyak dirasa membantu para guru honorer yang mengabdi di sekolahan. Dalam sekali saweran, setiap bulannya terkumpul uang sekitar Rp 2 juta. Nantinya uang tersebut dibagi kepada 8 Guru Tidak Tetap (GTT) yang ada dan Pegawai Tidak Tetap (PTT).

"Tidak ditentukan nominalnya. Kalau ada siswa yang tidak memberikan diperbolehkan. Tergantung kemampuan dan keikhlasannya," katanya, Jumat (14/9).

Dengan kondisi tersebut, pihaknya berharap Pemerintah mampu memberikan solusi terhadap nasib GTT dan PTT di lingkungannya, terutama dari aspek kesejahteraan. Sebab, upah atau honor tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para guru yang selama ini dirasa masih jauh dari kata cukup.

Sementara itu, salah seorang Guru Tidak Tetap (GTT) dari SD Mentel 1, Bayu Dwi Nur Cahyani menambahkan, dirinya sudah mengabdi sejak 2005 silam. Mirisnya, meski berprofesi sebagai tenaga pendidik, dirinya hanya mendapatkan gaji setiap bulan sebesar Rp 100 ribu. Ditambah bantuan dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), total honor yang diterimanya hanya Rp 200 ribu. “Ndak apa-apa, yang penting anak-anak memperoleh pendidikan yang baik," kata dia.

Uang jajan yang disisihkan oleh para siswanya ini dilakukan setiap hari Jumat. Beberapa murid membawa kardus berkeliling mengumpulkan uang. Ada yang memasukkan pecatan Rp 2 ribu, 5 ribu, hingga 10 ribu. "Nanti untuk bapak dan ibu guru, kasihan tidak mendapatkan gaji layak," kata seorang siswi, Carisa Moniati kepada wartawan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul Bahron Rasyid menambahkan, tak mempermasalahkan adanya kegiatan itu. Selama ini GTT dan PTT memang belum cukup layak mendapat upah. "Kami juga berusaha agar kesejahteraan mereka meningkat," pungkasnya.

(dho/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up