
Salah satu masjid roboh di Desa Batusuyagoo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Rabu (3/10) usai diguncang gempa 7,4 SR pada Jumat (28/9) lalu.
JawaPos.com - Donggala bagian utara bak kota mati. Sejak gempa terjadi pada Jumat (28/9), wilayah tersebut belum tersentuh. Pengungsi telantar di mana-mana tanpa bantuan. Berikut laporan wartawan Jawa Pos AGUS DWI PRASETYO dan HARITSAH ALMUDATSIR yang menelusuri kawasan tersebut lewat jalur alternatif.
---
"TIDAK bisa ke sana, jalan terputus," kata seorang warga Kota Palu saat kami tanya arah menuju Kabupaten Donggala bagian utara kemarin pagi (3/10). Sejenak kemudian warga lain menimpali.
"Katanya sih sudah bisa, arahnya ke sana. Tapi, tidak tahu juga ada yang bisa antar kita (baca: kamu, Red)," ujar pria bertubuh besar itu sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah utara.
Kami pun memutuskan berjalan kaki ke arah yang ditunjuk warga tadi. Sembari berharap ada tumpangan yang mengantarkan kami ke sana. Pukul 08.00 Wita, perjalanan ke arah utara Kota Palu itu kami awali dari Posko Penanggulangan Bencana Gempa Sulteng di Markas Korem 132 Tadulako di Jalan Sudirman, Palu.
Hampir setengah jam berjalan, tak ada satu pun kendaraan pikap yang kami hentikan "paksa" yang menuju Donggala. Namun, mereka tetap mau memberikan tumpangan. Setidaknya sampai tujuan yang mendekati Donggala. Tumpangan pertama mengantarkan kami dari Jalan Yos Sudarso sampai perempatan Tawelei, Kota Palu. Berikutnya, kami nggandol truk polisi sampai Pelabuhan Pantoloan.
Pelabuhan tersebut dijaga ketat polisi dan tentara. Sebab, beberapa kali warga sempat berupaya merangsek masuk ke objek vital itu untuk membongkar paksa kontainer-kontainer di area pelabuhan. Mereka mencari makanan. Namun, nafsu warga kemarin dapat diredam. Aparat mengizinkan mereka membawa pulang bahan makanan, antara lain ikan cakalang beku, dengan syarat: harus antre.
Di jalan raya depan Pantoloan, kendaraan yang menuju arah Donggala makin jarang. Dalam setengah jam, tidak sampai lima kendaraan bak terbuka yang melintas di depan pelabuhan peti kemas terbesar di Palu itu. Kami pun memutuskan beristirahat di sebuah warung, tak jauh dari Pantoloan. Warung tersebut hanya menyediakan mi rebus dan mi goreng instan.
Setelah beristirahat, kami kembali mencari tumpangan. Sebuah kendaraan Toyota Hilux melintas di hadapan kami beberapa saat kemudian. "Ayo kalau mau menumpang. Saya mau ke pantai barat," ujar Rudianto, sopir mobil satu gardan itu.
Tanpa pikir panjang, kami pun bergegas naik kendaraan milik pria asal Morowali tersebut. Dia hendak memastikan kondisi keluarganya di Desa Batusuyagoo, Kecamatan Sindue Tombu Sabora, Donggala, tidak menjadi korban gempa.
Dibutuhkan waktu sekitar setengah jam dari Pantoloan ke perbatasan Kota Palu-Kabupaten Donggala. Jalur itu sangat sepi. Hiruk pikuk kendaraan yang melintas di jalan trans-Sulawesi itu tak sesibuk di Kota Palu.
Awalnya perjalanan kami tak menemukan hambatan. Tapi, sesampai di Desa Toaya, Kecamatan Sindue, Donggala, perjalanan kami menyusuri jalan utama itu dialihkan. Mobil tak bisa meneruskan perjalanan melalui jalur tersebut. Sebab, beberapa ruas jalan tertutup timbunan longsor. Semua kendaraan lantas diarahkan lewat jalur alternatif.
Di situlah kendala menuju Donggala mulai terasa. Sebab, saat tiba di ruas Desa Ape Maliko-Desa Tibo, perjalanan kembali dialihkan ke jalur alternatif. Lebarnya tak sampai 3 meter. Sebagian besar badan jalan beralas tanah. Debu beterbangan ketika jalan itu dilintasi kendaraan.
Tak hanya sampai di situ, kendaraan juga harus menyusuri Sungai Tibo. Kedalaman sungai tersebut memang hanya sekitar lutut orang dewasa. Namun, arusnya cukup kencang. Tidak semua kendaraan bisa melewati sungai itu. Contohnya mobil Toyota Avanza yang kami temui. Kendaraan itu terpaksa menepi di bibir sungai lantaran mesinnya kemasukan air.
Keluar dari Sungai Tibo, kendaraan yang kami tumpangi kembali menyusuri jalan tanah berbatu. Di tengah perjalanan, beberapa warga setempat menghentikan kendaraan kami. Mereka minta sumbangan seikhlasnya. Namun, caranya agak sedikit memaksa dan ketus. Rudianto pun merogoh sakunya dan mengambil duit Rp 10 ribu. Lalu menyerahkannya ke salah seorang warga.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022