
Pesilat Jawa Barat, Hanifan Yudani Kusumah bersama kedua orang tuanya di GOR Padjadjaran Bandung, Senin (3/9).
JawaPos.com - Pesilat asal Jawa Barat, Hanifan Yudani Kusumah merupakan salah satu atlet yang berhasil meraih medali emas di Asian Games 2018. Disorot dan menjadi bintang di cabang olahraga Pencak Silat, ternyata Hanif sapaan Hanifan dilarang menjadi seorang aktor atau pemain film.
Apalagi aksinya setelah mendapatkan emas Asian Games. Dia membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) dam Prabowo Subianto berpelukan. Aksinya itu membuat masyarakat Indonesia bangga.
Ibu Hanif, Dewiyanti Kosasih tidak mengarahkan anaknya menjadi seorang aktor atau pemain film. Berharap, anak kebanggaannya ini bisa terus fokus menjalani karirnya sebagai atlet pencak silat.
"Kalau untuk main film atau keartisan, saya tidak mengarahkan ke sana karena saya ingin dia (Hanif) jadi seorang pesilat sejati dan berpendidikan yang baik," kata Dewi di Gor Padjadjaran Bandung, Senin (3/9).
Dengan menjadi seorang atlet yang berprestasi, sebagai orang tua akan selalu mendukung dan itu adalah karir yang harus dipertahankan. Karena dengan fokus maka masa depan yang cerah pun akan dalam genggamannya.
"Dwngan menjadi pesilat yang berprestasi, itu saya rasa sudah bisa jadi modal untuk hidup dia nanti," mantan atlet pencak silat yang pernah menjuarai Sea Games di Singapura 1993.
Hanif memang sudah tidak asing lagi dengan dunia Pencak Silat, selain kedua orang tuanya pun adalah atlet yang pernah juara dunia, Hanif juga sudah dikenalkan sejak kecil. Ikut berlatih, menonton, ikut pelatnas, hingga menjadi juara di Asian Games 2018.
Hanif dikenal sebagai seorang yang ramah dan murah senyum kepada semua orang. Berprestasi dan selalu mengutamakan pendidikan. Karena menurut Dewi, seorang Pesilat atau atlet itu harus seimbang antara dunia pendidikan dan prestasi. Maka pendidikan harus terus dikejar walaupun sudah menjadi atlet yang hebat.
"Karena Pencak Silat itu jadi memang dibutuhkan wawasan yang luas, itu sangat penting," ungkapnya.
Perihal rahasia Hanif bisa menjadi peraih medali emas, kata Dewi, sebetulnya pada prinsipnya atlet harus mempelajari berbagai macam teknik dan itu harus dikuasai sampai ahli. Kemudian teknik itu akan berguna pada saat menghadapi lawan-lawan dalam arena pertandingan.
"Jadi kata kuncinya dia harus cerdas , cerdik, harus tahu momen dimana dia memakai teknik a b c d. Jadi memang Pesilat itu harus memiliki wawasan yang luas. Jadi pintar saja tidak cukup," paparnya.
Karena kecerdikan dan kecerdasan atlet bisa mengcover dan mengatur strategi. Bahkan sebelum bertanding, para atlet biasanya mempelajari karakter dari lawannya. Itu bisa diantisiapsi dan dipelajari lewat profil lawan.

Prediksi Skor Kanada vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Lebih Diunggulkan, Mampukah Les Rouges Balas Dendam?
Prediksi Skor Paraguay vs Prancis di 16 Besar Piala Dunia 2026: Ujian Konsistensi si Biru
Prediksi Skor Meksiko vs Inggris di Piala Dunia 2026: Kelemahan 3 Singa di Estadio Azteca
Prediksi Skor Brasil vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Statistik Vikings Siap Hancurkan Samba
Prediksi Skor Brasil vs Norwegia: Bursa Taruhan Dunia Jagokan Selecao, Opta Beri Peluang Menang 53,6 Persen
Prediksi Skor Meksiko vs Inggris di Piala Dunia 2026: Ujian Konsistensi The Three Lions Demi Lolos Perempat Final!
Prediksi Skor Prancis vs Paraguay: Bursa Taruhan Jagokan Les Bleus, Opta Catat Peluang Menang 79,7 Persen!
Kisah Renato Veiga, Bek Timnas Portugal yang Tumbuh di Maroko hingga Memilih Memeluk Agama Islam
Prediksi Skor Kanada vs Maroko: Bursa Dunia Sepakat Pilih Atlas Lions, Opta Beri Peluang Menang 51,8 Persen
Prediksi Skor Inggris vs Meksiko: Bursa Taruhan Dunia Tetap Jagokan Three Lions, Rekor Angker Azteca Jadi Ancaman
