
Salah satu dari kawanan monyet ekor panjang yang memasuki area Universitas Katolik (Unika) Soegijapranoto Semarang, Gajahmungkur, Senin (2/4) kemarin
JawaPos.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah memperbolehkan warga sekitar Jalan Pawiyatan Luhur, Kecamatan Gajahmungkur, Semarang menembak monyet ekor panjang yang masuk ke pemukiman setempat. Namun, tentunya ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
Kepala BKSD Jateng Suharman mengatakan keperluan menembak tersebut tak lebih dari sekedar untuk melindungi diri jika kawanan monyet tadi menyerang. Apalagi, berdasakan PP Nomor 8 Tahun 2015, primata tersebut juga tak dikategorikan sebagai satwa dilindungi.
"Kalau sudah merasa terancam, maupun menganggap kawanan monyet sebagai musuh atau hama, maka masyarakat diperbolehkan menembak hewan itu," katanya saat dihubungi, Selasa (3/4).
Untuk diketahui, kawanan monyet ekor panjang sempat turun gunung dan menyerbu kampus Universitas Katolik (Unika) Soegijapranoto Semarang, Gajahmungkur, Senin (2/4) kemarin.
Menurut Suharman, membunuh monyet hanya menjadi masalah etika, lantaran yang berkembang di tengah masyarakat monyet punya karakter mirip dengan manusia. "Saya beberapa kali ketemu orang Perbakin, mereka saja tidak tega nembaknya," sambungnya.
Pandangan orang saat melihat monyet dibunuh, lanjutnya sama dengan sebuah kasus ketika seekor kucing sengaja ditembak di Jogjakarta beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal itu tidak jadi masalah dari sisi hukum. Dan lagi, saat hewan tersebut mengancam memang diizinkan untuk ditembak.
Suharman sendiri menuturkan, sejauh ini belum mendapati laporan masyarakat ihwal serangan kawanan monyet ekor panjang di Pawiyatan Luhur. Sosialisasi penanganan serangan monyet akan digencarkan bila masyarakat membutuhkan.
Namun demikian, ia mengatakan serangan monyet ekor panjang tidak hanya terjadi di Jawa Tengah saja. "Jawa Timur, Jawa Barat saja ada. Makanya roadmap sedang disusun di Jakarta, mungkin saja nanti ada kuota tertentu untuk (monyet) yang boleh ditembak," imbuhnya.
Selain itu, pihaknya dalam waktu dekat akan menggelar pertemuan dengan para pecinta hewan, dinas-dinas terkait dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk membahas penanganan serangan monyet yang terjadi hampir merata di seluruh Indonesia.
"Mengingat semua daerah belakangan ini muncul gangguan yang diakibatkan kawanan monyet di rumah-rumah warga. Maka kami akan menyikapi hal ini setelah menggelar pertemuan dengan stackholder terkait pekan depan," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Resort Konservasi Wilayah Semarang Tarsisius Suharyono, menyarankan kepada warganya agar jangan lagi memberi makan kepada monyet yang turun gunung.
Berdasarkan pengalamannya, seekor monyet jantan sehari bisa kawin sampai 30 kali. "Bisa dibayangkan kalau mereka diberi makan terus. Habitatnya tentu meningkat pesat dan bisa membentuk koloni baru," ujar Suharyono.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
