Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 4 April 2018 | 02.56 WIB

Monyet Masuki Pemukiman Warga, BKSDA: Silahkan Ditembak

Salah satu dari kawanan monyet ekor panjang yang memasuki area Universitas Katolik (Unika) Soegijapranoto Semarang, Gajahmungkur, Senin (2/4) kemarin - Image

Salah satu dari kawanan monyet ekor panjang yang memasuki area Universitas Katolik (Unika) Soegijapranoto Semarang, Gajahmungkur, Senin (2/4) kemarin

JawaPos.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah memperbolehkan warga sekitar Jalan Pawiyatan Luhur, Kecamatan Gajahmungkur, Semarang menembak monyet ekor panjang yang masuk ke pemukiman setempat. Namun, tentunya ada beberapa hal yang harus diperhatikan.


Kepala BKSD Jateng Suharman mengatakan keperluan menembak tersebut tak lebih dari sekedar untuk melindungi diri jika kawanan monyet tadi menyerang. Apalagi, berdasakan PP Nomor 8 Tahun 2015, primata tersebut juga tak dikategorikan sebagai satwa dilindungi.


"Kalau sudah merasa terancam, maupun menganggap kawanan monyet sebagai musuh atau hama, maka masyarakat diperbolehkan menembak hewan itu," katanya saat dihubungi, Selasa (3/4).


Untuk diketahui, kawanan monyet ekor panjang sempat turun gunung dan menyerbu kampus Universitas Katolik (Unika) Soegijapranoto Semarang, Gajahmungkur, Senin (2/4) kemarin.


Menurut Suharman, membunuh monyet hanya menjadi masalah etika, lantaran yang berkembang di tengah masyarakat monyet punya karakter mirip dengan manusia. "Saya beberapa kali ketemu orang Perbakin, mereka saja tidak tega nembaknya," sambungnya.


Pandangan orang saat melihat monyet dibunuh, lanjutnya sama dengan sebuah kasus ketika seekor kucing sengaja ditembak di Jogjakarta beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal itu tidak jadi masalah dari sisi hukum. Dan lagi, saat hewan tersebut mengancam memang diizinkan untuk ditembak.


Suharman sendiri menuturkan, sejauh ini belum mendapati laporan masyarakat ihwal serangan kawanan monyet ekor panjang di Pawiyatan Luhur. Sosialisasi penanganan serangan monyet akan digencarkan bila masyarakat membutuhkan.


Namun demikian, ia mengatakan serangan monyet ekor panjang tidak hanya terjadi di Jawa Tengah saja. "Jawa Timur, Jawa Barat saja ada. Makanya roadmap sedang disusun di Jakarta, mungkin saja nanti ada kuota tertentu untuk (monyet) yang boleh ditembak," imbuhnya.


Selain itu, pihaknya dalam waktu dekat akan menggelar pertemuan dengan para pecinta hewan, dinas-dinas terkait dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk membahas penanganan serangan monyet yang terjadi hampir merata di seluruh Indonesia.


"Mengingat semua daerah belakangan ini muncul gangguan yang diakibatkan kawanan monyet di rumah-rumah warga. Maka kami akan menyikapi hal ini setelah menggelar pertemuan dengan stackholder terkait pekan depan," jelasnya.


Sementara itu, Kepala Resort Konservasi Wilayah Semarang Tarsisius Suharyono, menyarankan kepada warganya agar jangan lagi memberi makan kepada monyet yang turun gunung.


Berdasarkan pengalamannya, seekor monyet jantan sehari bisa kawin sampai 30 kali. "Bisa dibayangkan kalau mereka diberi makan terus. Habitatnya tentu meningkat pesat dan bisa membentuk koloni baru," ujar Suharyono.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore