Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 2 Juli 2024 | 02.17 WIB

Apa Kabar ”Sastra Koran”?

ILUSTRSI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRSI. (BUDIONO/JAWA POS)

Pada paro kedua dekade ’90-an, setiap akhir pekan saya menumpang bemo, dari rumah saya di Ampenan ke kawasan pertokoan Cakranegara, untuk datang ke sebuah kios kecil yang menjual aneka terbitan.

DI sana saya bisa memilih koran yang akan saya beli. Karena uang saya terbatas, saya cuma bisa membeli maksimal dua koran meskipun hasrat hati ingin membeli semua koran yang memiliki halaman sastra. Sering saya berusaha mengintip isi koran, yang biasanya distaples ujungnya, untuk mengetahui karya siapa yang dimuat. Ketika melakukan itu, saya perhatikan mata penjaga kios mengamat-amati saya dengan awas dan mata yang awas itu menjadi sedikit ramah setelah saya pada akhirnya meletakkan satu atau dua eksemplar koran di meja kasir.

Di rumah, saya akan membuka-buka lembar-lembar koran yang saya beli dan langsung mencari halaman sastra. Tidak jarang saya ”menyesal” membeli sebuah koran, bukan cuma karena karya-karya yang termuat tidak memuaskan hati, melainkan juga karena sering kali halaman sastra terisi oleh hal lain, iklan misalnya. Kalau sudah begitu, saya akan mengulang membalik-balik lembar-lembar koran tersebut seakan-akan dengan begitu halaman sastra akan muncul dan bahwa sebelumnya saya cuma luput belaka. Apabila pada akhirnya saya bisa menerima kenyataan bahwa halaman sastra edisi tersebut memang ditiadakan, akhir pekan berikutnya saya tidak membeli koran yang sama. Saya memilih koran yang lain. Masa itu banyak pilihan koran yang bisa saya dapatkan di kios kecil tadi: Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Bali Post, Nusa Tenggara, Surabaya Post, juga Suara Karya yang punya edisi khusus Minggu, SKeM (Suara Karya edisi Minggu), yang sudah bisa didapatkan pada Sabtu.

Begitulah, selama bertahun-tahun kemudian, secara selang-seling saya membeli edisi akhir pekan koran-koran tersebut, nyaris hanya untuk memiliki halaman sastranya. Pada waktu-waktu tertentu, saya memilih karya-karya (puisi dan cerpen) yang paling saya sukai; menggunting, mengkliping, dan menjilidnya seperti sebuah buku, seakan-akan saya adalah seorang editor. Sementara karya-karya yang tidak masuk seleksi saya tempatkan terpisah. Dengan cara itu, secara tidak langsung saya belajar dan membentuk selera. Kecuali itu, saya mulai memahami bahwa halaman sastra di koran adalah jalur utama bagi seorang calon penulis sastra untuk menyiarkan karya-karyanya sekaligus menetapkan posisinya di kancah sastra Indonesia. Saya sempat lama dirundung tanya: kenapa halaman sastra di koran muncul pada edisi akhir pekan. Kelak di kemudian hari, pada sebuah acara pertemuan penyair di Palembang, seorang redaktur sastra memberi saya jawaban: halaman sastra muncul pada edisi akhir pekan karena pada edisi tersebut jarang ada yang memasang iklan. Mungkin karena itu, apabila tiba-tiba ada yang memasang iklan pada edisi akhir pekan, halaman sastralah yang ditiadakan.

Secara pribadi, saya berutang pada halaman sastra di koran. Selain karena pada akhirnya saya juga menulis di koran-koran, juga karena halaman sastra di koran adalah cara paling murah untuk memenuhi hasrat membaca sastra manakala buku tidak mudah didapatkan. Di kota tempat tinggal saya memang ada beberapa toko buku, tapi buku sastra sangat jarang, dan apabila ada, harganya tentu jauh di atas harga koran. Sementara untuk ke perpustakaan pemerintah, saya sudah enggan sebab pernah disuruh keluar lantaran saya cuma pakai sandal jepit dan tidak memasukkan ujung baju ke dalam celana.

Dibanding majalah-majalah khusus sastra (atau lebih luas: budaya), juga berbagai buletin, zine, atau jurnal independen yang persebarannya terbatas, halaman sastra di koran relatif mudah didapatkan sebab ia berada di antara halaman-halaman berita yang menjadi kebutuhan harian masyarakat umum. Halaman sastra di koran memberi nilai lain bagi koran dan membuat setidaknya ada bagian dari koran bersangkutan yang tidak lekas ”basi”. Di daerah mana pun sebuah koran terbit, halaman sastranya tetaplah bisa dibaca sebagai halaman ”nasional”.

Selain itu, halaman sastra di koran kerap dianggap sebagai ujian bagi para calon sastrawan. Ada semacam kepercayaan kalau belum terbit di koran-koran tertentu karier seorang sastrawan belumlah meningkat; terbit di koran A, misalnya, bisa dianggap lebih berprestasi ketimbang terbit di koran B. Betapa sering saya mendengar cerita perihal bagaimana halaman puisi di koran Bali Post yang dikelola Umbu Landu Paranggi menjadi ajang kompetisi para penyair untuk mencapai level-level tertentu. Begitu pula halaman ”Pertemuan Kecil” di harian Pikiran Rakyat (Bandung) yang dikelola Saini KM, yang sering disebut sebagai ruang belajar bagi para calon penyair.

Halaman sastra di koran merupakan bagian penting dari perjalanan dan perkembangan sastra Indonesia. Saking kuatnya peran halaman sastra di koran, sampai lahir satu istilah khas: ”sastra koran”.

Pada awal abad ke-21, ketika internet mulai menembus masyarakat dan pergaulan maya mulai dilakukan, pernah ada polemik seru terkait ”sastra koran” versus ”sastra siber”. Polemik tersebut melibatkan banyak sastrawan dan mengiringi awal pergeseran media, dari bentuk cetak ke bentuk digital.

Sebetulnya, masa ramai koran belum jauh dari hari ini. Tengok saja Grup Sastra Minggu di Facebook, grup di mana dulu saya pernah menjadi salah seorang admin (bersama Riza Multazam Luthfy dan Bamby Cahyadi). Sepuluh sampai lima belas tahun lalu masih banyak nama koran yang masuk dalam laporan. Seorang kawan, Abu Nabil Wibisana, bahkan rajin mengumpulkan dan membagikan versi PDF halaman sastra koran-koran dari berbagai daerah di grup tersebut. Versi PDF koran merupakan bentuk paripurna dari kompromi cetak dan digital.

Meski kini hampir semua media sudah beralih ke bentuk online, masih ada koran-koran yang mempertahankan bentuk cetaknya dengan halaman sastra yang terbit tiap akhir pekan. Artinya, ”sastra koran” masih ada meski tidak seramai dulu. Lagi pula kebiasaan ”sastra koran” itu tampaknya masih banyak diadopsi media-media online. Sejumlah situs online menerbitkan halaman sastra masih pada edisi akhir pekan meski bisa dipastikan itu bukan karena pada akhir pekan jarang ada yang memasang iklan.

Sekarang saya sudah jarang membeli koran. Kios kecil tempat saya biasa membeli koran juga sudah lama tutup dan di kota tempat saya bermukim sudah hampir tidak ada lagi penjual koran. Kadang-kadang, pada waktu-waktu tertentu, saya tengok lagi halaman sastra dari koran-koran lama yang masih saya simpan, juga kliping-kliping yang sudah mulai berwarna kekuningan. Saya bayangkan ribuan karya sastra yang pernah terbit di koran selama berpuluh-puluh tahun ke belakang; karya-karya yang tak sempat dibukukan, sebagian pasti sudah lenyap tak berbekas, tapi sebagian lain mungkin masih tersimpan entah di mana. Pada halaman-halaman itu, sedikit banyak, serpih-serpih sejarah sastra Indonesia berada. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore