Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 Juli 2024 | 18.34 WIB

Kenangan Freddy H. Istanto tentang Srimulat di Surabaya: Dengar Whiskey and Soda, Langsung Ingat Srimulat

Freddy H. Istanto. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS) - Image

Freddy H. Istanto. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)

Musik instrumental Whiskey and Soda merupakan hal yang paling diingat Freddy H. Istanto soal pertunjukan Srimulat di Taman Hiburan Rakyat Surabaya pada 1970- an akhir. Biasanya lagu karya Horst Wende atau yang lebih dikenal dengan nama Roberto Delgado tersebut menjadi pembuka sebelum karakter pertama muncul.

ANY RUFAIDAH, Surabaya

---

’’BIASANYA yang tampil pertama pembantu yang bawa kemoceng dan serbet,’’ kata dosen arsitektur Universitas Ciputra Surabaya itu. ’’Musik yang sama diputar lagi pas istirahat,’’ lanjut pria yang juga pemerhati cagar budaya Surabaya tersebut.

Saat break, giliran para penyanyi yang tampil. Biasanya anggota Srimulat sendiri.

’’Kadang penyanyinya tua, tapi tampil dengan lagu rock. Lucu jadinya,’’ kenang pria 68 tahun itu, lantas tertawa. Tapi, yang paling diingat dia adalah penampilan Jujuk yang menyanyi keroncong. ’’Cantik banget dia. Pakai kebaya. Anggun begitu. Khas perempuan Jawa Tengah,’’ cerita Freddy.

Dulu, Freddy menonton Srimulat bersama sang ayah yang dia sebut sebagai laki-laki Tionghoa, tapi kejawen. ’’Saya waktu kecil ndak dikenalkan budaya Tionghoa. Tapi, Petruk dan Gareng,’’ tutur pria yang lahir di Peneleh, Surabaya, tersebut. Setelah dewasa, dia nonton bersama sang pacar yang hingga kini menjadi istrinya.

’’Istri saya ngefans sama Karjo AC-DC. Lucu banget dia. Karakternya cowok, tapi kecewek-cewekan. Jauh sebelum ada Tessy,’’ ujar Freddy.

Sepanjang ingatan Freddy, Gedung Srimulat dulu bersih. Penonton duduk di bangku kayu yang ditata di depan panggung. ’’Dulu itu ndak ada sampah sembarangan. Tapi, pas terakhir-terakhir Srimulat itu kok rasanya kotor begitu,’’ jelasnya.

Dulu karakter Srimulat banyak sekali. Selain tokoh yang hingga kini terkenal seperti Tarsan, Nunung, Kadir, atau Doyok, beberapa karakter yang dia ingat adalah Bandempo, Eddy Geyol, Bambang Gentolet, dan Asmuni.

Hal lain yang diingat Freddy saat diajak ayahnya menonton Srimulat adalah kesempatan berjalan-jalan melihat buku dan komik yang dijual deretan toko di sepanjang Jalan Kusuma Bangsa. ’’Di situ banyak sekali toko buku. Kalau sekarang kayak Jalan Semarang begitu,’’ kenangnya.

Freddy menilai, Srimulat tak lagi berjaya karena ada pergeseran selera masyarakat.

’’Kalau dulu memang lucu. Guyonannya ndak kasar. Mungkin karena mereka lahirnya di Jawa Tengah sana,’’ jelasnya. Menurut dia, sekarang yang lebih disuka masyarakat komedi solo atau lebih dikenal dengan stand-up comedy. (*/c7)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore