
Freddy H. Istanto. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)
Musik instrumental Whiskey and Soda merupakan hal yang paling diingat Freddy H. Istanto soal pertunjukan Srimulat di Taman Hiburan Rakyat Surabaya pada 1970- an akhir. Biasanya lagu karya Horst Wende atau yang lebih dikenal dengan nama Roberto Delgado tersebut menjadi pembuka sebelum karakter pertama muncul.
ANY RUFAIDAH, Surabaya
---
’’BIASANYA yang tampil pertama pembantu yang bawa kemoceng dan serbet,’’ kata dosen arsitektur Universitas Ciputra Surabaya itu. ’’Musik yang sama diputar lagi pas istirahat,’’ lanjut pria yang juga pemerhati cagar budaya Surabaya tersebut.
Saat break, giliran para penyanyi yang tampil. Biasanya anggota Srimulat sendiri.
’’Kadang penyanyinya tua, tapi tampil dengan lagu rock. Lucu jadinya,’’ kenang pria 68 tahun itu, lantas tertawa. Tapi, yang paling diingat dia adalah penampilan Jujuk yang menyanyi keroncong. ’’Cantik banget dia. Pakai kebaya. Anggun begitu. Khas perempuan Jawa Tengah,’’ cerita Freddy.
Dulu, Freddy menonton Srimulat bersama sang ayah yang dia sebut sebagai laki-laki Tionghoa, tapi kejawen. ’’Saya waktu kecil ndak dikenalkan budaya Tionghoa. Tapi, Petruk dan Gareng,’’ tutur pria yang lahir di Peneleh, Surabaya, tersebut. Setelah dewasa, dia nonton bersama sang pacar yang hingga kini menjadi istrinya.
’’Istri saya ngefans sama Karjo AC-DC. Lucu banget dia. Karakternya cowok, tapi kecewek-cewekan. Jauh sebelum ada Tessy,’’ ujar Freddy.
Sepanjang ingatan Freddy, Gedung Srimulat dulu bersih. Penonton duduk di bangku kayu yang ditata di depan panggung. ’’Dulu itu ndak ada sampah sembarangan. Tapi, pas terakhir-terakhir Srimulat itu kok rasanya kotor begitu,’’ jelasnya.
Dulu karakter Srimulat banyak sekali. Selain tokoh yang hingga kini terkenal seperti Tarsan, Nunung, Kadir, atau Doyok, beberapa karakter yang dia ingat adalah Bandempo, Eddy Geyol, Bambang Gentolet, dan Asmuni.
Hal lain yang diingat Freddy saat diajak ayahnya menonton Srimulat adalah kesempatan berjalan-jalan melihat buku dan komik yang dijual deretan toko di sepanjang Jalan Kusuma Bangsa. ’’Di situ banyak sekali toko buku. Kalau sekarang kayak Jalan Semarang begitu,’’ kenangnya.
Freddy menilai, Srimulat tak lagi berjaya karena ada pergeseran selera masyarakat.
’’Kalau dulu memang lucu. Guyonannya ndak kasar. Mungkin karena mereka lahirnya di Jawa Tengah sana,’’ jelasnya. Menurut dia, sekarang yang lebih disuka masyarakat komedi solo atau lebih dikenal dengan stand-up comedy. (*/c7)

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
