Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Januari 2023 | 19.48 WIB

Riuh Konser, Festival, dan Wisata Musik

Photo - Image

Photo

SETELAH dua tahun lebih mati suri imbas pandemi, industri pertunjukan musik tanah air bisa bernapas lega, bahkan berlari kencang pada 2022. Panggung-panggung konser dan festival kembali terbangun megah, disambut dengan gegap gempita oleh penikmat musik.

Joyland Festival di Nusa Dua, Bali, akhir Maret lalu menjadi pertunjukan musik berskala besar perdana semenjak pandemi. Disusul konser Rossa, Isyana, Raisa, rangkaian tur 30 kota Dewa 19, dan event tahunan Java Jazz Festival yang sempat absen pada tahun sebelumnya.

Semester kedua hingga pengujung 2022 makin riuh. Di antaranya, konser Dream Theatre di Solo, festival musik Pestapora, Synchronize Fest, Soundrenaline, Djakarta Warehouse Project (DWP), juga Head in The Clouds Jakarta.

Para musisi dunia pun berbondong-bondong manggung di Indonesia. Mulai Westlife, Michael Learns to Rock, hingga The Script. Belum lagi sejumlah idol K-pop yang menghelat konser atau fan meeting di Indonesia, market besar mereka. Ada NCT 127, TXT, Stray Kids, Seventeen, dan banyak lainnya.

Pelonggaran mobilitas memberikan ruang bagi promotor untuk mengoptimalkan penyelenggaraan. Konser dan festival musik bisa dihelat dengan kapasitas hingga 100 persen venue. Tiap pergelaran yang disebut di atas dipenuhi lautan penonton, membayar kerinduan selama pandemi.

Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) Dino Hamid melihat, selain konser tunggal, saat ini market festival musik tengah berkembang. Penonton membutuhkan ruang selebrasi dan pengalaman musik yang lebih beragam.

Ditambah, ’’kelahiran’’ generasi penonton baru yang 2–3 tahun lalu belum diizinkan nonton sendiri oleh orang tuanya lantaran masih di bawah umur, kini sudah bisa merasakan pengalaman ngonser atau nonton festival musik. Dan, menurut mereka, melainkan juga kota-kota lainnya, Surabaya, Solo, Jogjakarta, Magelang, Semarang, Medan, Makassar, dan banyak lainnya.

Jika di 2022 masih ada beberapa konser dan festival musik yang berakhir ricuh, bahkan batal digelar, tahun ini tentu harapannya itu tidak lagi terjadi. Isu keamanan, overcapacity, seharusnya sudah bisa diantisipasi sejak awal. Di antaranya, dengan crowd control management yang tepat, teknis produksi pertunjukan yang profesional, dan mengutamakan aspek keamanan untuk menghasilkan show yang memukau dan nyaman buat semua.

Sederet jadwal pertunjukan musik pada 2023 sudah menanti. Mulai konser Sheila on 7, Raisa, BLACKPINK, Blue, Arctic Monkeys, Hammersonic Festival, Prambanan Jazz Festival, Synchronize Fest, hingga Pestapora 2023 yang mulai dipersiapkan.

Festival musik merupakan salah satu cara mendatangkan orang dalam jumlah banyak dari berbagai daerah atau negara. Dari situ melahirkan konsep music tourism atau wisata musik.

Sebagaimana yang diupayakan founder dan CEO Rajawali Indonesia Anas Alimi dengan mendatangkan musisi-musisi dunia ke tempat-tempat yang punya nilai historis. Di antaranya, Candi Prambanan, Candi Borobudur, hingga De Tjolomadoe, eks pabrik gula di Karanganyar, Jawa Tengah.

Meski digelar bukan di ibu kota, antusiasme penonton sangat tinggi. Dengan demikian, orang tidak hanya menikmati festival musik, tetapi juga berwisata ke destinasi-destinasi di sekitarnya.

Sudah ada beberapa yang dikonsep sebagai music tourism, tetapi tetap dibutuhkan peran pemerintah. Kalau ada grand design, itu akan jadi potensi yang luar biasa. Menggandengkan musik dan pariwisata, dua hal yang menghibur sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. (*)




*) NORA SAMPURNA, Redaktur Jawa Pos Minggu

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore