Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 Juli 2024 | 17.18 WIB

Tanggal 1 Juli 1949

HISTORI: Sebagian koran berbahasa Mandarin yang terbit semasa Java Post. (FOTO: DOKUMENTASI DUKUT IMAM WIDODO) - Image

HISTORI: Sebagian koran berbahasa Mandarin yang terbit semasa Java Post. (FOTO: DOKUMENTASI DUKUT IMAM WIDODO)

The Chung Shen mendirikan koran Java Post bukan lantaran bisnis surat kabar kala itu menjanjikan kenikmatan. Sama sekali tidak! Rasa kebangsaan The Chung Shen sebagai orang Indonesia jauh lebih berbicara daripada urusan cuan!

Sejak menguasai negeri ini, pemerintah Belanda sudah menerapkan politik pecah belah terhadap semua etnis. Maka berdasarkan Wijkenstelsel (Undang-Undang Wilayah) tahun 1841–1910, permukiman di Surabaya dibagi-bagi sesuai etnisnya. Orang Eropa terutama Belanda di kawasan Darmo. Orang Tionghoa di kawasan Kembang Jepun. Orang Arab di kawasan Ampel dan pribumi di daerah pinggiran.

Setelah perang 10 November 1945, Kota Surabaya berada di bawah kekuasaan Belanda dengan Gubernur Recomba-nya Van der Plas.

LANTANG: Jauh sebelum Java Post terbit, koran-koran sudah seberani itu menyiarkan berita-berita yang sensitif. (FOTO: DOKUMENTASI DUKUT IMAM WIDODO)

Sebagai penguasa, pemerintah Belanda memberikan fasilitas pacht (hak monopoli) kepada orang-orang Tionghoa. Hal ini sudah mereka lakukan jauh sebelumnya, seperti pacht rumah gadai, pacht jembatan timbang, pacht rumah bordil, dsb.

Lantaran bisnis pacht pula, dalam waktu singkat telah membuat para pachter Tionghoa tumbuh menjadi konglomerat. Sebab, hampir seluruh kegiatan sektor ekonomi dalam waktu singkat telah dikuasai oleh orang-orang Tionghoa. Jadi kalau orang Tionghoa pengin kaya, bukan dengan cara mendirikan koran, namun dengan berbisnis pacht!

Dalam bulan Juli tahun 1949, setelah pendirian koran Java Post pada tanggal 1 Juli, suasana Kota Surabaya serta negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Banyak peristiwa dramatis yang terjadi selama bulan itu.

Sebelumnya, Jakarta sudah dikuasai Belanda. ibu kota RI pun pindah ke Jogjakarta. Namun, Bung Karno, Bung Hatta, dan beberapa orang pemimpin negeri ini ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Bangka. Maka, didirikanlah PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) di Bukittinggi dengan Perdana Menteri-nya Mr Safruddin Prawiranegara.

Salah satu hasil Perjanjian Roem-Royen dalam bulan Juli ini adalah dipulihkannya kembali pemerintah RI di Jogja.

Pada tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekarno beserta Wakil Presiden Mohammad Hatta tiba di Kota Jogja dari tempat pembuangannya di Pulau Bangka.

Kabinet Republik Indonesia menerima Perjanjian Roem-Royen pada tanggal 14 Juli.

Pada tanggal 22 Juli, Konferensi Inter Indonesia I yang diketuai oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta telah selesai dilaksanakan dengan hasil antara lain:

Negara Indonesia Serikat akan diberi nama Republik Indonesia Serikat dengan bendera Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, bahasa nasional bahasa Indonesia, serta tanggal 17 Agustus sebagai Hari Kemerdekaan.

 

DUKUT IMAM WIDODO. (BEKI SUBECHI/JAWA POS)


Satu bulan lebih 6 hari setelah terbitnya Java Post, Kartosuwirjo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia. Sejak saat itu terjadilah perang saudara yang paling bengis, kejam, dan brutal antara TNI dengan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia).

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore