Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 Oktober 2017 | 22.22 WIB

Dosa Besar Peneliti

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

TERKUAKNYA kebohongan besar Dwi Hartanto yang sempat dijuluki The Next Habibie menambah panjang daftar pelanggaran kode etik di dunia akademik. Kemenristekdikti pun kecolongan dan mengundang pria yang tinggal di Belanda itu dalam program Visiting World Class Professor 2016 di Jakarta.


Dwi melakukan kebohongan dengan mengaku sebagai kandidat profesor. Padahal, dia masih berstatus mahasiswa di Departemen Sistem Intelijen TU Delft Belanda. Dwi juga mengaku sebagai alumnus S-1 di Tokyo Institute of Technology Jepang. Kenyataannya, dia adalah lulusan Institut Sains dan Teknologi (IST) Akprind Jogjakarta.


Tidak hanya sampai di situ, Dwi juga menyebut dirinya mengikuti riset rancang bangun proyek dirgantara militer pemerintah Belanda. Juga menjadi anggota tim riset pengembangan pesawat tempur EuroTyphoon menjadi EuroTyphoon NG (New Generation) di Airbus. Dia pun mengaku memenangi kompetisi riset teknologi antar-space agency dunia pada 2016. Plakat penghargaan itu dia buat sendiri dan disebar ke media sosial.


Saking meyakinkannya, Dwi berhasil mengundang mantan Presiden B.J. Habibie untuk bertemu dengannya di Belanda. KBRI di Den Haag juga memberinya penghargaan. Program Mata Najwa pun mewawancarainya di Negeri Kincir Angin. Kemenristekdikti bahkan mengundang dia dalam program Visiting World Class Professor 2016 di Jakarta.


Kasus Dwi itu bukan yang pertama. Sebelumnya, pada zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kasus pupuk Nutrisi Saputra, Blue Energy, dan padi Super Toy HL2 juga sempat menghebohkan. Tiga hasil riset tersebut ”sukses” mempermalukan SBY kala itu.


Kita memang harus berlari cepat mengejar ketertinggalan. Namun, semuanya butuh proses. Tidak bisa instan. Tidak boleh cepat silau dengan penemuan hebat. Peneliti boleh salah. Tapi tidak boleh berbohong. Dosa besar yang tidak bisa diampuni bagi seorang peneliti adalah berbohong. Sama seperti wartawan. Sebagai manusia bisa melakukan kesalahan. Tapi tidak boleh berbohong.


Di sisi lain, pemerintah juga tidak boleh alergi dengan inovasi-inovasi yang dilakukan anak-anak negeri. Pernyataan Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Graha Pena Surabaya Minggu (8/10) sudah gamblang: riset itu bisa berhasil, bisa pula tidak. Namun, bila dianggap gagal, juga tidak boleh dipermasalahkan. Apalagi kemudian dikriminalisasi.


Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore