
Ilustrasi
TERKUAKNYA kebohongan besar Dwi Hartanto yang sempat dijuluki The Next Habibie menambah panjang daftar pelanggaran kode etik di dunia akademik. Kemenristekdikti pun kecolongan dan mengundang pria yang tinggal di Belanda itu dalam program Visiting World Class Professor 2016 di Jakarta.
Dwi melakukan kebohongan dengan mengaku sebagai kandidat profesor. Padahal, dia masih berstatus mahasiswa di Departemen Sistem Intelijen TU Delft Belanda. Dwi juga mengaku sebagai alumnus S-1 di Tokyo Institute of Technology Jepang. Kenyataannya, dia adalah lulusan Institut Sains dan Teknologi (IST) Akprind Jogjakarta.
Tidak hanya sampai di situ, Dwi juga menyebut dirinya mengikuti riset rancang bangun proyek dirgantara militer pemerintah Belanda. Juga menjadi anggota tim riset pengembangan pesawat tempur EuroTyphoon menjadi EuroTyphoon NG (New Generation) di Airbus. Dia pun mengaku memenangi kompetisi riset teknologi antar-space agency dunia pada 2016. Plakat penghargaan itu dia buat sendiri dan disebar ke media sosial.
Saking meyakinkannya, Dwi berhasil mengundang mantan Presiden B.J. Habibie untuk bertemu dengannya di Belanda. KBRI di Den Haag juga memberinya penghargaan. Program Mata Najwa pun mewawancarainya di Negeri Kincir Angin. Kemenristekdikti bahkan mengundang dia dalam program Visiting World Class Professor 2016 di Jakarta.
Kasus Dwi itu bukan yang pertama. Sebelumnya, pada zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kasus pupuk Nutrisi Saputra, Blue Energy, dan padi Super Toy HL2 juga sempat menghebohkan. Tiga hasil riset tersebut ”sukses” mempermalukan SBY kala itu.
Kita memang harus berlari cepat mengejar ketertinggalan. Namun, semuanya butuh proses. Tidak bisa instan. Tidak boleh cepat silau dengan penemuan hebat. Peneliti boleh salah. Tapi tidak boleh berbohong. Dosa besar yang tidak bisa diampuni bagi seorang peneliti adalah berbohong. Sama seperti wartawan. Sebagai manusia bisa melakukan kesalahan. Tapi tidak boleh berbohong.
Di sisi lain, pemerintah juga tidak boleh alergi dengan inovasi-inovasi yang dilakukan anak-anak negeri. Pernyataan Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Graha Pena Surabaya Minggu (8/10) sudah gamblang: riset itu bisa berhasil, bisa pula tidak. Namun, bila dianggap gagal, juga tidak boleh dipermasalahkan. Apalagi kemudian dikriminalisasi.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
