
Photo
JawaPos.com - Masyarakat pra-sejahtera yang mencari nafkah dengan berdagang gelisah. Sebab mereka kini hidup dalam himpitan ekonomi di tengah pandemi tanpa penghasilan yang pasti.
Seperti halnya Eni Yuniarti,50,yang sudah sebulan tidak berjualan. Penjualan semakin sepi, sehingga tidak ada pemasukan untuk kehidupan sehari-hari. “Kadang, saya sudah masak nasi banyak, cuma tidak ada pembeli,” cerita warga Kampung Muka, Jakarta Utara melalui keterangan resmi, Kamis (28/5).
Ibu paruh baya itu menjadi tulang punggung keluarga. Ia berjualan nasi goreng di sisi rel KRL dekat Stasiun Kota.
Warung Eni buka sejak pukul 17.00 WIB hingga tengah malam. Sebelum pandemi Covid-19 dan pembatasan sosial berskala besar, Eni biasa memperoleh pendapatan sebesar Rp 400 ribu dalam sehari.
“Sekarang alhamdulillah masih dapat 30 ribu, memang tidak balik modal. Itu pun buka sejak pukul lima sampai dua malam. Maka dari itu, jualan berhenti dulu,” lanjut Erni.
Sementara keadaan semakin tidak pasti, Eni harus memenuhi hidup keluarga dan membayar sewa rumah. Ia pun berpasrah mengandalkan bantuan dari tetangga sekitar. Sementara suami Eni harus pulang kampung untuk menjalani pengobatan dan cuci darah setiap pekan. Biaya hidup di Jakarta yang tinggi tidak mampu dipenuhi. Sedangkan Eni tinggal bersama ibunya di sebuah kontrakan petak.
“Kalau ada modal lagi, saya tetap mau berjualan untuk menyambung hidup,” ungkapnya.
Mendengar hal itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) pun memberikan bantuan modal usaha untuk Eni melalui Program Sahabat Usaha Mikro Indonesia (SUMI). Tim Program ACT Wahyu Nur Alim berharap, modal tersebut bisa menjadi penyemangat Eni untuk kembali membuka usaha.
“Lebih lanjut, melalui program SUMI, penerima manfaat juga akan mendapatkan pendampingan pengembangan kapasitas usaha dari aspek spiritual dan manajemen wirausaha,” jelas dia.
Vice President ACT Insan Nurrohman menjelaskan, Program Sahabat Usaha Mikro Indonesia adalah program pemberian sedekah modal kerja dan pendampingan untuk pelaku usaha ultra mikro yang terdampak pandemi Covid-19. Melalui pendampingan, penerima manfaat yang dalam satu wilayah kecamatan akan dibentuk kelompok sesuai dengan kluster usaha.
“Masih banyak usaha mikro yang belum memiliki fasilitas informasi terkait permodalan. Sebagian mereka juga belum mampu memisahkan keuangan usaha dengan kebutuhan harian rumah tangga. Mereka juga terjebak rentenir yang justru malah menyengsarakan kehidupan,” terangnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
