Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meluncurkan program Kartu Jakarta Pintar (KJP) Try Out khusus bagi siswa kelas XII penerima KJP Plus di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Selasa (21/10). (Istimewa)
JawaPos.com - Gubernur DKI Pramono Anung kembali angkat suara, terkait dana mengendap di Bank Jakarta. Dia membenarkan dana sebesar Rp 14,6 triliun itu disimpan Pemprov DKI.
“Bapak Menteri Keuangan, Pak Purbaya, beliau menyampaikan ada dana Rp 14,6 triliun yang dimiliki oleh Pemprov DKI yang ada di Bank Jakarta. Itu betul 1000 persen, bukan 100 persen lagi, 1000 persen,” ujarnya.
Namun, Pramono menegaskan bahwa dana tersebut bukan idle atau menganggur tanpa tujuan. Menurutnya, Pemprov DKI memang memiliki pola serapan anggaran yang melonjak di akhir tahun. Sebagai contoh, pada akhir tahun 2023 dana mengendap sampai Rp 16 triliun. Lalu, tahun 2024, angka itu diperkirakan naik jadi Rp 18 triliun.
“Maka kenapa dana ini ada? pasti nanti dana itu akan kami gunakan untuk melakukan pembayaran-pembayaran seperti itu (akhir tahun, Red),” jelasnya.
Disisi lain, Pramono justru menagih janji suntikan dana Rp 10 triliun oleh Menteri Keuangan Purbaya saat menyambangi Balai Kota beberapa pekan lalu.
“Pemerintah DKI meminta kepada Pak Menteri Keuangan, tambah dong Rp 10 triliun yang mau ditransfer, segera ditransfer,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Rano Karno menuturkan, dana di Bank Jakarta itu bukan tidak digunakan. “Setiap daerah pasti punya komponen. Ya artinya itu sebetulnya bukan mengendap,” ujarnya.
Menurutnya, setiap daerah pasti akan memiliki dana tersimpan di bank. Salah satunya untuk Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) yang akan digunakan sebagai modal kerja awal tahun. “Hampir setiap tahun, Silpa Jakarta cukup besar. Bisa di atas Rp 4-5 triliun, Silpa loh. Nah itu kan bukan mengendap, memang dana yang memang ada buat modal kerja untuk tahun depan,” tambahnya.
Rano juga mengakui, masih adanya jajaran OPD di Jakarta yang melaksanakan tender jelang akhir tahun. Sehingga, dibutuhkan alokasi dana untuk pembiayaan proyek itu. Meskipun, dia mengakui, beberapa dana APBD DKI sudah digunakan untuk membiayai beberapa proyek. Di antaranya, LRT Jakarta, MRT Jakarta, hingga normalisasi untuk pencegahan banjir.
“Untuk normalisasi sungai itu Rp 4 triliun loh. Ya, tapi kan begitu kerja, bukan berarti semua Rp 4 triliun dikeluarkan. Kan bertahap kerjanya. Multiyears, ada yang dua atau tiga tahun. Nah itu komponen itu sebetulnya,” tambahnya.
Meski demikian, Rano sepakat dengan pernyataan Menteri Purbaya bahwa dana daerah memang harus segera digerakkan agar dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat. “Tapi oke, saya setuju dengan Pak Menkeu bahwa memang dana daerah harus digerakkan,” pungkasnya.(rya/)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
