Dokter Aaron saat menjenguk korban reruntuhan musala Ponpes Al Khoziny. (Istimewa)
JawaPos.com — Kisah heroik lahir dari reruntuhan musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Senin malam (29/9/2025). Di tengah situasi genting, seorang dokter TNI bernama Aaron Franklyn Soaduon Simatupang harus mengambil keputusan hidup-mati, yakni mengamputasi kaki seorang santri bernama Nur Ahmad di lokasi bencana.
Semua terjadi begitu cepat setelah bangunan musala roboh menimpa Ahmad yang saat itu berada di dalam.
Tubuhnya terjepit bongkahan beton, sehingga membuat tim evakuasi dihadapkan pada pilihan sulit antara menunggu atau segera melakukan tindakan medis ekstrem di tempat.
Dokter Aaron yang tergabung dalam tim gabungan Basarnas, TNI, Polri, PMI, relawan, serta tenaga medis RSUD R.T. Notopuro, langsung berada di garda depan.
“Jadi pada malam hari itu, semua bergerak dalam bentuk tim. Baik Basarnas dari TNI, dari Polri, dari tim PMI, dan seluruh relawan yang ada di situ,” ujar dr. Aaron.
“Dan juga dari RSUD Notopuro sendiri, sudah membawa dr. spesialis anestesi, serta dr. spesialis ortopedi yang sudah senior-senior, yang sudah jam terbangnya tinggi.”
“Kebetulan kami juga menjadi bagian dari tim RSUD, kebetulan kami juga berlatar belakang militer,”
Mereka mendiskusikan opsi yang paling memungkinkan untuk menyelamatkan nyawa Ahmad yang sudah kritis.
Pilihan pertama adalah mengangkat balok beton lebih dulu agar Ahmad bisa dievakuasi utuh.
Namun risiko kehilangan darah besar dan suplai oksigen yang semakin menipis membuat skenario itu sangat berbahaya dan bisa berujung fatal.
“Sehingga pada saat diperhadapkan dengan dua pilihan, yaitu menunggu balok diangkat, kemudian dievakuasi, atau opsi yang kedua adalah kita melaksanakan pemotongan atau anestesi tadi,” ungkap dr. Aaron.
Pilihan kedua adalah melakukan amputasi di lokasi kejadian. Setelah pertimbangan matang bersama dokter spesialis ortopedi dan dokter anestesi senior, diputuskanlah untuk mengambil langkah berani: amputasi darurat.
“Seperti tidak memungkinkan untuk yang opsi pertama, karena risikonya adalah, pasien kehilangan darah lebih banyak lagi, kemudian oksigen yang ada tipis-menipis, sehingga pasien kemudian bisa hipoksia, ya berujung pada hal yang tidak kita inginkan,” ungkap dr. Aaron setelah operasi penyelamatan tersebut.
Dengan keputusan final itu, tim segera bergerak mempersiapkan semua yang dibutuhkan di lapangan sempit.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
