
Dharma Pongrekun. (Agung Kurniawan/Jawa Pos)
JawaPos.com - Beragam gagasan kontroversial Dharma Pongrekun sekilas memang tampak nyeleneh. Namun, gaya komunikasi politik purnawirawan Polri itu dinilai tidak sepenuhnya salah sepanjang teori yang dikemukakan bisa diterima warga Jakarta.
Tapi, sebaliknya, jika gagasan yang dilontarkan sulit diterima masyarakat, Dharma akan mendapatkan masalah. Salah satunya, elektabilitas yang rendah.
”Tapi, ini harus dibuktikan oleh survei. Untuk menentukan apakah (gaya komunikasi Dharma) bagus atau tidak, (elektabilitasnya) tinggi atau tidak,” kata pengamat politik Ujang Komaruddin kepada Jawa Pos kemarin (2/11).
Dalam politik, menyampaikan gagasan di hadapan publik, yang kontroversial sekalipun, merupakan hal lumrah. Namun, Ujang menyebut mestinya Dharma tidak sekadar melontarkan gagasan kontroversial. Tapi, juga mengimbanginya dengan ide-ide segar yang realistis sesuai kebutuhan masyarakat.
”Mestinya ada hal baru (yang diberikan Dharma kepada masyarakat Jakarta). Bukan sekadar teori konspirasi,” terangnya.
Ujang menyebut, mengukur sejauh mana efektivitas gagasan nyeleneh ala Dharma memang harus dibuktikan dengan survei. Survei tersebut nanti menggambarkan apakah ide Dharma bisa diterima publik atau tidak. Survei itu sekaligus menjadi acuan untuk mengukur tinggi atau rendahnya elektabilitas pria kelahiran Palu, Sulawesi Tengah, tersebut.
”Kalau (setelah disurvei) elektabilitasnya (Dharma) biasa-biasa saja, ya berarti (gagasan nyeleneh Dharma) tidak diterima warga Jakarta,” tegas pengajar Universitas Al Azhar Indonesia tersebut.
Sementara itu, jika dilihat dari sudut pandang psikologi, gagasan nyeleneh Dharma sangat mungkin tidak diproduksi tim sukses (timses) atau tim pemenangan. Ide aneh dan terkadang irasional itu sangat mungkin orisinal dari pemikiran Dharma.
”Karena sejak awal, Dharma Pongrekun acapkali berperilaku dan bikin pernyataan irasional,” kata ahli psikologi forensik Reza Indragiri Amriel kepada Jawa Pos.
Reza menambahkan, elektabilitas Dharma yang berada di bawah dua kandidat pilgub Jakarta lainnya mungkin menjadi acuan timses untuk mendorong Dharma memproduksi gagasan-gagasan aneh.
”Itu (memproduksi gagasan-gagasan aneh, Red) siasat yang paling jitu,” kata Reza.
Namun, di luar ide aneh itu, Reza melihat Dharma tidak memiliki kapasitas kepemimpinan yang baik. Terlebih di masa kritis. ”Sebagai seniman, sepertinya lebih cocok,” imbuhnya. (tyo/c7/ttg)

Prediksi Skor Kolombia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Misi Los Cafeteros Lolos 16 Besar, Siap Kirim Pulang Wakil Afrika
Prediksi Skor Australia vs Mesir di 32 Besar Piala Dunia 2026: The Pharaohs Menang Tipis Lewat Duel Sengit
Prediksi Skor Kanada vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Lebih Diunggulkan, Mampukah Les Rouges Balas Dendam?
Prediksi Skor Paraguay vs Prancis di 16 Besar Piala Dunia 2026: Ujian Konsistensi si Biru
Penjelasan Gol Offside Kroasia ke Gawang Portugal! Keputusan Kontroversial di 32 Besar Piala Dunia 2026
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Kisah Renato Veiga, Bek Timnas Portugal yang Tumbuh di Maroko hingga Memilih Memeluk Agama Islam
Prediksi Skor Australia vs Mesir: Bursa Taruhan Unggulkan The Pharaohs, Opta Hanya Jagokan Socceroos 46 Persen
Prediksi Skor Argentina vs Tanjung Verde: Bursa Taruhan Jagokan Albiceleste, Opta Beri Peluang Menang Lebih dari 80 Persen
Prediksi Skor Australia vs Mesir di Piala Dunia 2026: Menanti Kejutan Satu-satunya Wakil Asia
