
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi Jakarta. (Muhamad Ali/Jawa Pos Koran)
JawaPos.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Jakarta pada kuartal II 2024 tumbuh 4,90 persen year on year (yoy). Pertumbuhan ekonomi itu meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang angkanya 4,78 persen (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Arlyana Abubakar menuturkan, peningkatan pertumbuhan ekonomi Jakarta didorong beberapa faktor. Dari sisi permintaan, didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga (RT), investasi, serta membaiknya kinerja ekspor.
''Konsumsi RT tumbuh sebesar 5,28 persen (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,25 persen(yoy). Peningkatan itu sejalan dengan tingginya aktivitas saat HBKN Idul Fitri, HBKN Idul Adha dan periode liburan,'' terang Arlyana, Selasa (6/8).
Kemudian, investasi juga meningkat dengan pertumbuhan sebesar 4,66 persen (yoy) Lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,36 persen (yoy).
Sementara, kinerja ekspor juga mengalami perbaikan pada kuartal II 2024 dengan pertumbuhan mencapai 7,06 persen (yoy). Naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,23 persen (yoy).
''Kondisi itu sejalan dengan perbaikan ekspor barang ke luar negeri. Diantaranya, komoditas logam mulia, kendaraan, dan bagiannya serta mesin dan peralatan mekanis,'' terangnya. Selain itu, perbaikan ekspor juga ditopang ekspor jasa dari peningkatan jumlah wisatawan mancanegara.
Dari sisi lapangan usaha (LU), pertumbuhan ekonomi Jakarta didorong oleh meningkatnya kinerja LU jasa keuangan, perdagangan, konstruksi, dan industri pengolahan. Seluruhnya meningkat dibanding kuartal sebelumnya.
LU jasa keuangan tumbuh 10,99 persen (yoy). Lalu LU perdagangan juga tumbuh menopang pertumbuhan dengan pertumbuhan sebesar 6,87 persen (yoy) yang tercermin dari meningkatnya indeks penjualan ritel.
Kemudian, LU konstruksi tumbuh 6,55 persen (yoy) dan industri pengolahan tumbuh 2,46 persen (yoy) setelah pada kuartal sebelumnya tumbuh negatif -0,53 persen (yoy).
Di saat bersamaan, konsumsi pemerintah mengalami kontraksi sebesar -5,62 persen (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh tinggi mencapai 30,30 persen. Penyebabnya adalah menurunnya belanja pegawai seiring pencairan THR yang lebih awal serta menurunnya belanja bansos. Itu menjadi faktor yang menghambat pertumbuhan ekonomi Jakarta.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
