SAKSI SEJARAH: Tembok bangunan tua yang berdiri tegak di Pulau Cipir. Dulu bangunan tersebut digunakan sebagai rumah sakit karantina haji.
Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor sudah lama menjadi jujukan wisata. Selain pantainya yang indah, tiga lokasi itu memiliki bangunan tua peninggalan Belanda. Namun, wilayah yang masuk Kepulauan Seribu, Jakarta, itu juga menyimpan banyak kisah mistis.
---
Rombongan wisatawan dari Depok, Jawa Barat, itu tidak sabar untuk turun ketika kapal bersandar di Pulau Cipir dua minggu lalu. Mereka langsung menyebar untuk menikmati keindahan pulau tersebut.
Tampak dua meriam berjejer di pinggir pantai. Besi meriam itu tampak sudah berkarat, tapi masih sangat kokoh. Tak jauh dari situ, terlihat bangunan tua peninggalan Belanda. Dindingnya berdiri kokoh.
Selain pintu-pintu yang masih utuh, terlihat pula bilik-bilik kamar dan jendela. Namun, atap bangunan tersebut sudah hilang. Dedaunan yang jatuh dari pepohonan sekitarnya terserak menutupi lantai bangunan.
Di salah satu sudut ruangan terdapat prasasti yang menyebutkan bahwa bangunan tua itu merupakan bekas rumah sakit karantina haji yang beroperasi pada 1911–1933. Para wisatawan juga berkunjung ke Pulau Kelor.
Pulau itu lebih kecil, tapi pemandangannya sangat cantik. Puing Benteng Martello masih berdiri kokoh sebagai penanda bahwa penjajah Belanda pernah berjaya di laut Indonesia. Yang tidak dilewatkan para wisatawan adalah Pulau Onrust yang pernah sangat terkenal.
Selain bekas bangunan zaman kolonial, terdapat puluhan makam yang sampai sekarang masih terawat. Pulau Onrust merupakan bekas pelabuhan dan bengkel kapal.
Ketika siang, tiga pulau itu memang sangat cantik. Namun, saat matahari terbenam, aura mistisnya mulai terasa. Banyak kejadian horor di pulau yang ditetapkan sebagai cagar budaya itu.
Menurut Husnison Nizar, mantan kepala unit pengelola (UP) Taman Arkeologi Onrust yang juga arkeolog, banyak cerita misteri yang menyelimuti pulau-pulau itu. Sonni, sapaan akrab Husnison Nizar, menyatakan, suatu ketika dia dan timnya melakukan penelitian arkeologi di pulau tersebut.
Mereka terdiri atas pegawai dan mahasiswa. Sebelum sampai pulau, pihaknya menyampaikan bahwa mereka tidak boleh banyak melamun ketika berada di pulau tersebut.
Ternyata, salah seorang peneliti perempuan sedang mempunyai masalah dan menjadi beban pikirannya. Ketika sampai di pulau, dia banyak melamun. Peneliti itu langsung bisa melihat penampakan kehidupan zaman Belanda.
Pulau itu terlihat sangat ramai. Dia juga melihat noni-noni Belanda mengendarai sepeda. Tentu saja, perempuan itu sangat kaget dan merinding. Dia pun berusaha untuk tidak melamun. Peneliti yang lain juga merasakan kejadian-kejadian janggal. Ada di antara mereka yang mendengar teriakan minta tolong dan suara orang yang sedang disiksa.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
