Sejumlah tiang monorel yang digunakan sebagai vertikal garden di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Senin (24/11/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Setelah terbengkalai selama lebih dari dua dekade, tiang-tiang monorel yang selama ini menghiasi Jalan HR Rasuna Said akhirnya mulai dibongkar. Langkah ini diambil Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mempercantik estetika kota sekaligus mengurai kemacetan di kawasan pusat bisnis tersebut.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin langsung proses pembongkaran perdana pada Rabu (14/1). Ia didampingi oleh Wakil Gubernur Rano Karno, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso (Bang Yos), serta Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DK Jakarta Patris Yusrian Jaya.
Pembongkaran ini menjadi momen bersejarah bagi warga Jakarta. Pasalnya, tiang-tiang tersebut sudah berdiri tegak tanpa kepastian selama hampir 22 tahun. Gubernur Pramono menegaskan, proses hukum dan administrasi telah diselesaikan dengan hati-hati.
"Tentunya untuk melakukan ini prosesnya panjang dan secara khusus saya berterima kasih kepada Kajati DKI Jakarta yang telah memberikan support sepenuhnya untuk melakukan penataan jalan Rasuna Said ini dan juga KPK karena pada waktu itu secara khusus saya juga melaporkan kepada KPK supaya tidak ada permasalahan di kemudian hari," ujar Pramono Anung di lokasi, Rabu (14/1)
Pramono Anung menjelaskan, biaya pembongkaran tiang monorel hanya menghabiskan anggaran berkisar Rp 254 juta. Kemudian nantinya akan dilakukan penataan trotoar, jalan, saluran air dan taman dengan anggaran sekitar Rp102 miliar.
"Kemudian untuk penataan secara keseluruhan nanti ada jalan, ada selokan ada taman kemudian ada pendestrian diperkirakan Rp102 miliar. Sehingga sekaligus saya ingin meluruskan bahwa yang Rp100 miliar itu bukan motongnya, motongnya hanya Rp254 juta rupiah," terangnya.
Sebanyak 109 tiang yang tersebar di sepanjang Jalan Rasuna Said akan dipotong secara bertahap. Proyek ini tidak hanya sekadar merobohkan beton, tetapi juga mencakup revitalisasi kawasan secara menyeluruh guna meningkatkan kenyamanan pengguna jalan. Pemotongan hingga penataan kawasan akan dilakukan hingga September tahun ini.
"Delapan bulan, bulan September (selesai)," jelasnya.
Pramono juga memberikan apresiasi kepada Sutiyoso, sang penggagas awal monorel. Menurutnya, kegagalan proyek di masa lalu lebih disebabkan oleh pergantian kebijakan setelah masa jabatan Bang Yos berakhir.
"Bukan Bang Yos tidak mau menyelesaikan karena memang Bang Yos sudah berakhir tugasnya, tidak dilanjutkan, berganti kebijakan," katanya.
Untuk diketahui, proyek ini pertama kali digagas pada era 2003–2004 sebagai ambisi solusi transportasi modern. Mengandalkan teknologi straddle beam, monorel awalnya direncanakan memiliki dua jalur utama: Green Line (Rasuna Said-Sudirman) dan Blue Line (Kuningan-Kampung Melayu).
Sayangnya, meski sempat dihidupkan kembali pada 2013, proyek senilai Rp4,5 triliun ini menemui jalan buntu dan mangkrak total. Kini, setelah dua dekade, Jakarta memilih untuk melakukan pembongkaran demi wajah kota yang lebih fungsional dan indah.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
