
Sakit kepala berat menjadi salah satu tanda stroke (Canva)
JawaPos.com - Untuk meningkatkan peringkat Jakarta sebagai kota global yang berdaya saing, Pemprov DKI terus memperhatikan masalah kesehatan yang ada. Oleh sebab itu, Pemprov DKI berusaha menangani persoalan masalah kesehatan di lapangan. Salah satunya penyakit stroke.
Berdasar data Dinas Kesehatan DKI, angka kecacatan akibat stroke di Jakarta acukup tinggi, yakni mencapai 21,4 persen. Dari jumlah itu, sebanyak 2,9 persen berakhir dengan kematian. Oleh karena itu, Pemprov DKI berkomitmen mewujudkan Jakarta Siaga Stroke 2026.
“Jakarta memiliki fasilitas kesehatan yang relatif paling lengkap, sehingga kami mengadakan gerakan pencegahan stroke sejak dini,” ujar Pramono.
Pramono berharap Jakarta bisa menjadi role model untuk mengatasi permasalahan stroke tersebut. Oleh karena itu, dia memerintahkan Dinas Kesehatan agar pasukan putih yang berjumlah 584 orang, yang selama ini khusus menangani difabel dan lansia, turut mendukung penanganan stroke.
“Begitu Jakarta berhasil, saya yakin daerah-daerah lain akan mengikuti pola yang sama, apalagi kalau sudah terintegrasi dengan data Satu Sehat Nasional,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengapresiasi komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam mewujudkan Jakarta Siaga Stroke 2026. Menurutnya, program itu merupakan yang pertama kali dijadikan komitmen di tingkat provinsi di Indonesia.
“Jakarta itu adalah energinya Indonesia. Mobilitas penduduk dan aktivitas ekonomi terkonsentrasi hampir secara terpusat di Kota Jakarta. Sayangnya, mobilitas yang tinggi dan aktivitas pekerjaan yang membebankan masyarakat Jakarta sering kali membuat mereka lupa akan kesehatannya,” terangnya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa stroke merupakan penyebab kematian terbesar di Indonesia. “Kurang lebih ada 330.000 kematian stroke, dan salah satu yang melambungkan pembebanan kesehatan nasional paling tinggi adalah stroke,” tambahnya. Oleh karena itu, sangat mendukung komitmen Pemprov DKI untuk Jakarta Siaga Stroke 2026.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati menuturkan, penanganan stroke harus dilakukan dengan cepat.
“Stroke adalah penyakit yang harus ditangani dalam waktu kurang dari 4,5 jam. Jadi, kalau pasien dari awal gejala kemudian langsung diobati dan bisa menuju rumah sakit dalam waktu kurang dari 4,5 jam, maka bisa selamat dan terhindar dari kecacatan,” katanya.
Untuk mewujudkan Jakarta Siaga Stroke, Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan RS PON sebagai pusat rujukan nasional. Kerja sama ini dilakukan sekaligus untuk memperkuat tata layanan stroke serta melakukan penilaian mutu pelayanan secara berkelanjutan.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
