Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Oktober 2025 | 15.26 WIB

Kronologi Lengkap Detik-detik Dokter Aaron Jalankan Misi Hidup-Mati, Amputasi Nur Ahmad di Reruntuhan Ponpes Al Khoziny

Dokter Aaron saat menjenguk korban reruntuhan musala Ponpes Al Khoziny. (Istimewa)

JawaPos.com — Kisah heroik lahir dari reruntuhan musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Senin malam (29/9/2025). Di tengah situasi genting, seorang dokter TNI bernama Aaron Franklyn Soaduon Simatupang harus mengambil keputusan hidup-mati, yakni mengamputasi kaki seorang santri bernama Nur Ahmad di lokasi bencana.

Semua terjadi begitu cepat setelah bangunan musala roboh menimpa Ahmad yang saat itu berada di dalam.

Tubuhnya terjepit bongkahan beton, sehingga membuat tim evakuasi dihadapkan pada pilihan sulit antara menunggu atau segera melakukan tindakan medis ekstrem di tempat.

Dokter Aaron yang tergabung dalam tim gabungan Basarnas, TNI, Polri, PMI, relawan, serta tenaga medis RSUD R.T. Notopuro, langsung berada di garda depan.

“Jadi pada malam hari itu, semua bergerak dalam bentuk tim. Baik Basarnas dari TNI, dari Polri, dari tim PMI, dan seluruh relawan yang ada di situ,” ujar dr. Aaron.

“Dan juga dari RSUD Notopuro sendiri, sudah membawa dr. spesialis anestesi, serta dr. spesialis ortopedi yang sudah senior-senior, yang sudah jam terbangnya tinggi.”

“Kebetulan kami juga menjadi bagian dari tim RSUD, kebetulan kami juga berlatar belakang militer,” 

Mereka mendiskusikan opsi yang paling memungkinkan untuk menyelamatkan nyawa Ahmad yang sudah kritis.

Pilihan pertama adalah mengangkat balok beton lebih dulu agar Ahmad bisa dievakuasi utuh.

Namun risiko kehilangan darah besar dan suplai oksigen yang semakin menipis membuat skenario itu sangat berbahaya dan bisa berujung fatal.

“Sehingga pada saat diperhadapkan dengan dua pilihan, yaitu menunggu balok diangkat, kemudian dievakuasi, atau opsi yang kedua adalah kita melaksanakan pemotongan atau anestesi tadi,” ungkap dr. Aaron.

Pilihan kedua adalah melakukan amputasi di lokasi kejadian. Setelah pertimbangan matang bersama dokter spesialis ortopedi dan dokter anestesi senior, diputuskanlah untuk mengambil langkah berani: amputasi darurat.

“Seperti tidak memungkinkan untuk yang opsi pertama, karena risikonya adalah, pasien kehilangan darah lebih banyak lagi, kemudian oksigen yang ada tipis-menipis, sehingga pasien kemudian bisa hipoksia, ya berujung pada hal yang tidak kita inginkan,” ungkap dr. Aaron setelah operasi penyelamatan tersebut.

Dengan keputusan final itu, tim segera bergerak mempersiapkan semua yang dibutuhkan di lapangan sempit.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore