JawaPos.com - Pemprov DKI Jakarta berencana menggunakan biaya tidak terduga (BTT) APBD 2024 untuk pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna mencegah cuaca ekstrem yang terjadi pada 6-9 Desember 2024.
Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Teguh Setyabudi menuturkan, untuk menggunakan BTT, diperlukan adanya penetapan Status Keadaan Darurat Bencana. Saat ini, kata Teguh, pihaknya masih menjajaki kemungkinan agar ditetapkannya status tersebut.
"Tapi karena menggunakan dana BTT, maka kita harus ada pernyataan status darurat. Nah ini sedang kita jajaki dan kita koordinasikan," ujar Teguh.
Ia menjelaskan, sejatinya Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan sejumlah antisipasi terjadinya banjir di Jakarta. Baik dari pompa air, pendangkalan sungai dan hingga infrastruktur penunjang lainnya.
Namun, jika curah hujan terlalu tinggi dan berlangsung berhari-hari, diperlukan upaya adanya antisipasi lainnya, yakni TMC.
"Tapi kalau hujannya itu juga katakanlah misalnya 10 hari berturut-turut, itu kondisi tanah akan jenuh. Ini juga akan memperlambat aliran. Ini yang juga harus kita lakukan antisipasinya," terangnya.
Terpisah, Ketua Subkelompok Urusan Pengendalian dan Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Muhamad Thoufiq Hidayatuloh menjelaskan, TMC rencananya akan mulai dilakukan selama tiga hari. Mulai sejak Sabtu (7/12/2025) hingga Senin (9/12/2024).
"Kita lakukan rekayasa cuaca sejak tanggal 7, 8, dan 9 Desember sesuai arahan Pak Gubernur," ujar Thoufiq kepada JawaPos.com, Jumat (6/12/2024).
Ia menjelaskan, pelaksanaan modifikasi cuaca nantinya akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.
"Anggarannya sekitar Rp 1,4 Miliar sampai Rp 1,5 Miliar. Tapi Itu masih (anggaran) kasar ya," jelasnya.
Thoufiq menjelaskan, selain melakukan koordinasi dengan BMKG sebagai supervisi, Pemprov juga akan berkoordinasi dengan daerah penyangga melalui Biro Kerjasama Daerah DKI Jakarta. Sehingga, dapat dipastikan modifikasi cuaca yang dilakukan tidak akan berdampak pada daerah sekitar.
Sebelumnya diberitakan, BMKG meminta warga Jakarta mengantisipasi terjadinya hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari ke depan, tepatnya 6-9 Desember 2024. Plt Kepala BMKG RI Dwikorita Karnawati menuturkan, fenomena La Nina dan pergerakan awan hujan dari Samudra Hindia akan memperparah kondisi cuaca Jakarta beberapa hari ke depan.
"Dari perkembangan info cuaca, kami sudah prediksi sejak Oktober, mulai musim hujan pada November, puncak musim hujan diprediksi Januari 2025. Ada beberapa penyebab curah hujan tinggi pada 6-9 Desember, seperti fenomena La Nina serta pergerakan awan-awan hujan dari Samudra Hindia," ujar Dwikorita saat menggelar rapat bersama Pemprov DKI Jakarta di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (5/12/2024).
Ia mengimbau agar Pemprov DKI Jakarta terus meningkatkan kesiapsiagaan. Sehingga dapat meminimalisir dampak yang ditimbulkan dari cuaca ekstrem tersebut.
"Kami mengimbau DKI Jakarta siaga dalam menghadapi potensi tersebut," ucap Dwikorita.