Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Oktober 2024 | 15.52 WIB

Mengenal Sekolah Katolik Regina Pacis, Salah Satu Sekolah Tertua di Bogor

PENUH SEJARAH: Bangunan Sekolah Katolik Regina Pacis di Kota Bogor. (reginapacis.sch.id) - Image

PENUH SEJARAH: Bangunan Sekolah Katolik Regina Pacis di Kota Bogor. (reginapacis.sch.id)

JawaPos.com - Kota Bogor memiliki banyak sekali bangunan peninggalan kolonial Belanda yang masih bertahan hingga kini dan masih difungsikan. Beberapa bangunan itu seperti Istana Bogor dan beberapa bangunan gereja, seperti GPIB Zebaoth atau Gereja Katedral Bogor yang sudah berdiri sejak lama.

Tidak jauh dari Kebun Raya Bogor, tepatnya di Jalan Insinyur Haji Juanda No. 2, Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat, terdapat bangunan sekolah katolik yang sudah memiliki umur cukup tua. Yaitu, Sekolah Katolik Regina Pacis, salah satu sekolah tertua di Bogor.

Sekolah ini berada di lokasi cukup strategis. Dibangun pada 1948 atau tiga tahun setelah proklamsi kemerdekaan Republik Indonesia.

Bangunan Sekolah Katolik Regina Pacis ini merupakan bekas atau peninggalan dari masa kolonial Belanda. Sekolah Katolik Regina Pacis juga tidak jauh dari sejarah perkembangan Agama Katolik di Kota Bogor. Tepatnya setelah kehadiran Gereja Paroki Bogor pada 1889. Kini disebut Gereja Katedral Bogor.

Pada masa setelah pendirian Gereja Paroki Bogor yang kini Katedral Bogor pada 1889, di Kota Bogor sudah berdiri tiga panti asuhan katolik. Sehingga muncullah ide untuk membangun sekolah bagi orang-orang kalangan Eropa pada tahun 1920 an.

Fransiskan Misionaris Maria memiliki wewenang mengelola panti asuhan serta sekolah katolik untuk kalangan orang Eropa. Meskipun begitu, sebelumnya terdapat sebuah yayasan untuk menaungi sekolah dan panti asuhan yang berdiri di tempat yang sekarang bernama Sekolah Regina Pacis. Namun, tidak bertahan lama karena kepala yayasannya memutuskan untuk kembali ke Belanda.

Pada 1932, secara resmi Fransiskan Misionaris Maria kembali memiliki wewenang untuk mengelola panti asuhan dan sekolah yang awalnya hanya dikhususkan untuk murid putri saja. Operasional sekolah yang dikelola oleh Fransiskan Misionaris Maria dilakukan sampai 1942.

Saat masa perang dunia kedua, pada 1942, para pengelola sekolah dan panti asuhan terpaksa menyerahkan bangunan sekolah ini kepada tentara Jepang. Kedatangan tentara Jepang membuat bangunan sekolah yang kini menjadi Sekolah Regina Pacis itu dijadikan untuk tempat tawanan perang orang Eropa.

Para suster dari Fransiskan Misionaris Maria juga banyak yang dimasukkan menjadi tawanan perang Jepang di bangunan sekolah ini. Hingga akhirnya kegiatan pendidikan benar-benar tidak bisa lagi berjalan di sekolah ini.

Setelah Indonesia merdeka, para suster dari Fransiskan Misionaris Maria kembali dapat menggunakan bangunan sekolah itu hingga 1948 oleh Sr. M. Goede Herder sekolah yang dimulai dari jenjang Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Pertama dan SKP atau Sekolah Kepandaian Putri.

Sekolah ini diberi nama Sekolah “Regina Pacis”. Nama ini diambil dari nama-nama sekolah dan panti asuhan milik Fransiskan Misionaris Maria di Belanda. Sampai pada 1957, sekolah ini hanya menerima murid putri saja. Lantas pada 1958 membuka pendaftaran untuk murid putra. SKP atau Sekolah Kepandaian Putri pada 1967 ditutup karena kekurangan murid.

Pada 1970, karena kekurangan sumber daya, panti asuhan di sekolah itu juga ditutup. Pada masa modern, Sekolah Katolik Regina Pacis telah memiliki sebanyak 2.730 siswa mulai dari jenjang TK, SD, SMP, dan SMA. Sekolah Katolik Regina Pacis juga menjadi sekolah favorit di Kota Bogor.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore