Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Oktober 2024 | 03.03 WIB

Pramono Anung Kritisi Program Maghrib Mengaji Ridwan Kamil, Basri Baco Bilang Begini

Bakal Cagub dan Cawagub Jakarta, Pramono Anung  dan Rano Karno  tiba untuk menjalani pemeriksaan kesehatan di RSUD Tarakan, Jumat (30/08/2024). (Hanung Hambara/Jawa Pos) - Image

Bakal Cagub dan Cawagub Jakarta, Pramono Anung dan Rano Karno tiba untuk menjalani pemeriksaan kesehatan di RSUD Tarakan, Jumat (30/08/2024). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Sekretaris Tim Pemenangan Ridwan Kamil-Suswono (RIDO), Basri Baco, buka suara soal Program Maghrib Mengaji yang sempat dikritisi Calon Gubernur Jakarta nomor urut 3 Pramono Anung sebagai kampanye yang membawa-bawa agama.

Baco menegaskan bahwa Maghrib Mengaji merupakan program yang sudah diterapkan Ridwan Kamil saat menjabat Gubernur Jawa Barat. Program Maghrib Mengaji ini juga pernah diluncurkan oleh Gubernur Jakarta sebelumnya, Anies Baswedan.

"Program ini bertujuan untuk menggantikan tradisi berkumpulnya anak-anak di masjid setelah magrib hingga isya'. Daripada mereka sibuk main gadget, kita arahkan untuk belajar atau mengaji Al-quran," katanya kepada wartawan, Rabu (2/10).

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta ini juga menyangkal bahwa Program Maghrib Mengaji ini akan membebani pelajar karena siswa-siswi akan tetap berada di sekolah sampai magrib.

"Nggak begitu konsepnya. Siswa tetap belajar di sekolah seperti biasa dan pulang juga sama seperti biasa. Hanya saja, ketika sudah sampai rumah, pelajar diharuskan mengaji di masjid, mushala, atau ke guru ngaji di sekitar tempat tinggal masing-masing," jelasnya.

Nantinya, Baco menerangkan bahwa pelajar akan diberi buku monitoring dari sekolah. "Di situ ada batas akhir mengaji, tanda tangan guru ngaji dan diketahui orang tua," ungkaonuq.

Selain untuk meningkatkan pengetahuan agama bagi siswa muslim, Program Maghrib Mengaji juga bertujuan untuk mengurangi kenakalan remaja, seperti tawuran, geng motor, mabuk miras, narkoba dan lainnya.

"Targetnya menjadikan masjid sebagai safe house atau tempat aman bagi remaja agar tidak terjerumus dalam kenakalan. Sekarang ini banyak sekali, terutama anak-anak muda, melakukan tawuran dan narkoba," pungkasnya.

Sebelumnya, Program Maghrib Mengaji mendapat respons negatif dari lawan politiknya, Pramono Anung. Cagub nomor urut 3 itu menilai, program Maghrib Mengaji dianggap berbau politisasi agama.

"Sama sekali tidak. Bahwa ada yang mengusulkan untuk sampai maghrib di SMA-nya, kemudian mengaji, ya silakan lah mereka saja, kami tidak," ujar Pramono di hadapan warga di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, pada Sabtu (28/9) lalu.

"Karena bagi kami yang namanya Pilgub ini bukan hal yang bersifat keagamaan, tetapi inilah bagaimana membangun Jakarta menjadi lebih baik," lanjut Pramono Anung.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore