Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Juli 2023 | 20.00 WIB

Polusi Udara di Ibu Kota, Penyintas Penyakit Berat Ajak Semua Elemen Suarakan Perbaikan Kualitas Udara

Deretan gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Jakarta, tampak diselimuti kabut, Selasa (11/10/22). Polusi udara Jakarta pada Selasa (11/10), dalam kategori tanda warna merah. Berdasarkan data Real-time Air Quality Index (AQI), Konsentrasi PM2.5 di udara - Image

Deretan gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Jakarta, tampak diselimuti kabut, Selasa (11/10/22). Polusi udara Jakarta pada Selasa (11/10), dalam kategori tanda warna merah. Berdasarkan data Real-time Air Quality Index (AQI), Konsentrasi PM2.5 di udara

JawaPos.com–Polusi udara merupakan masalah serius di banyak kota di Indonesia, termasuk Jakarta. Tidak hanya mengganggu kualitas udara, polusi juga memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan masyarakat, terutama bagi mereka yang menderita penyakit pernapasan seperti asma.

Hal tersebut dirasakan salah satunya oleh Anita Sabidi, seorang ibu dari dua anak dan penyandang diabetes tipe satu. Dia mengalami tantangan cukup berat akibat polusi udara dan asma yang dideritanya.

”Beberapa bulan terakhir ini asma saya kambuh karena kualitas udara. Delapan minggu saya batuk-batuk, sesak napas tiap malam tuh hampir gak bisa tidur karena tiap kali berbaring pasti susah napas,” ujar Anita, dikutip dari video yang diunggah akun Youtube Bicara Udara.

Sebagai penyandang diabetes tipe satu sejak remaja, Anita telah belajar hidup dengan penyakit tersebut. Namun, keadaannya semakin rumit ketika dia juga didiagnosis menderita kardiomiopati dan asma selama masa kuliah. Anita mengatakan, tantangan yang dihadapi ketika polusi udara sedang tinggi sangat berat.

”Kalau keluar rumah saya pun bawa kaleng oksigen karena terdapat risiko serangan asma kapanpun seperti itu kondisinya. Dan kebayang kan kalau misalnya dalam waktu berminggu-minggu, berbulan bulan saya bahkan gak bisa tidur. Jadi ada sampai 2-3 hari saya gak bisa tidur sama sekali dan karena saya ada kondisi diabetes,” imbuh Anita.

Anita mengungkapkan, sulit bernapas bukan hanya memengaruhi kenyamanan hidup, tetapi juga mengancam nyawa. Ketika asmanya kambuh akibat polusi udara, kondisinya menjadi sangat buruk.

Kendati demikian, untuk melindungi keluarga, Anita mengambil beberapa langkah pencegahan untuk mengatasi dampak polusi udara.

”Pokoknya kita memastikan memang udaranya cukup aman supaya tanpa kita keluar rumah pun udaranya aman kita hirup. Kemudian kalau keluar rumah pun kita cek dulu kualitas udaranya dan tetap harus pakai masker,” ucap Anita.

Karena itu, Anita berharap pemerintah dapat mengambil langkah-langkah nyata dalam meningkatkan kualitas udara. Baginya, bernapas adalah hak hidup yang harus dijaga. Meskipun tidak terlihat secara langsung, dampak polusi udara berdampak buruk secara bertahap pada kesehatan dan harapan hidup masyarakat.

Let’s speak up your voice louder, jadi gak cuma kelompok rentan saja. Juga dari masyarakat, NGO, dari tenaga kesehatan, kita bulatkan suara untuk menyuarakan perbaikan kualitas udara di sekitar kita,” ujar Anita.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore