Ilustrasi seseorang membaca Al Qur
JawaPos.com - Kementerian Agama (Kemenag) menyempurnakan tafsir Al-qur'an yang sudah berusia 20 tahun lebih. Penyempurnaan itu untuk menjawab dinamika sosial-keagamaan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Penyempurnaan itu dilakukan dalam Ijtimak Ulama Tafsir Al-Qur’an yang melibatkan puluhan pakar tafsir, ulama, akademisi, dan perwakilan lembaga keagamaan. Mereka diminta untuk memberi masukan atas rancangan tafsir terbaru Kemenag. Adapun Ijtimak Ulama Tafsir Al-Qur’an ini berlangsung di Jakarta, Rabu hingga Jumat (19-21/11).
Direktur Jenderal (Dirjen) Bimas Islam Abu Rokhmad menuturkan, penyempurnaan tafsir ini dilakukan oleh Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah bersama Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an dan Badan Moderasi Beragama. Tim penyusun telah merampungkan tiga juz awal dari total 30 juz yang ditargetkan selesai pada 2027–2028.
Tim penyusun melibatkan 54 narasumber yang mewakili berbagai unsur, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), perguruan tinggi keagamaan negeri dan swasta, pesantren, hingga pusat studi Al-Qur’an. Beragam disiplin ilmu turut dilibatkan, mulai dari tafsir, hadis, falak, hingga kajian sosial-keagamaan.
"Mungkin sekitar 2027 atau 2028, kita akan memiliki tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama yang paling baru,” ujar Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad di Jakarta pada Kamis (20/11).
Dia mengatakan, penyempurnaan tafsir merupakan bagian dari tanggung jawab Kemenag dalam menyediakan rujukan keagamaan yang kredibel bagi masyarakat. Pasalnya, Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama usianya sudah lebih dari 20 tahun.
"Ini kegiatan yang cukup besar, sifatnya akademik, yaitu pertemuan ulama tafsir Al-Qur’an seluruh Indonesia. Sedang kita lakukan review atau penyempurnaan,” ujarnya.
Abu mengakui bahwa proses penyusunan tafsir secara kolaboratif memiliki tantangan tersendiri karena melibatkan berbagai pandangan keilmuan. Meski demikian keragaman tersebut justru menjadi kekuatan dalam menghasilkan tafsir yang lebih komprehensif dan dapat diterima secara luas.
"Kami sangat mengapresiasi kontribusi para ulama, pakar, dan seluruh narasumber yang mencurahkan pikirannya untuk penyempurnaan tafsir ini,” kata Abu.
Sementara itu, uji publik menjadi ruang penting untuk memverifikasi metodologi, rujukan, dan konteks penafsiran. Kolaborasi para mufasir, akademisi, dan pemangku kepentingan lain diharapkan memperkaya perspektif sehingga produk tafsir tidak hanya kuat secara tekstual, tetapi juga sensitif terhadap isu sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
