Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Oktober 2026 | 06.43 WIB

Mark Zuckerberg Perkuat Ambisi Bangun Sel Virtual dengan Dukungan Google dan Pemerintah AS

Mark Zuckerberg bersama istrinya, Priscilla Chan / Foto: (The Verge) - Image

Mark Zuckerberg bersama istrinya, Priscilla Chan / Foto: (The Verge)

JawaPos.com — Mark Zuckerberg memperluas kiprahnya di bidang biomedis melalui Biohub, organisasi riset nirlaba yang didirikannya bersama istrinya, Priscilla Chan, untuk mengembangkan “sel virtual” berbasis kecerdasan buatan (AI). Proyek ini diarahkan untuk membantu peneliti mempelajari proses biologis secara digital dan mencari pendekatan baru dalam mencegah serta menangani penyakit.

Dilansir dari The Verge, Kamis (8/10/2026), Google DeepMind, Meta, dan perusahaan rintisan penemuan obat berbasis AI Isomorphic Labs bersama-sama menginvestasikan USD 300 juta atau sekitar Rp5,37 triliun dengan kurs Rp17.890 per dolar AS ke Biohub. Pendanaan itu merupakan bagian dari inisiatif Virtual Biology senilai USD 1,8 miliar atau sekitar Rp32,20 triliun yang berfokus pada pembangunan kumpulan data untuk melatih model AI dalam memahami sistem biologis

Inisiatif tersebut bertujuan menghasilkan data yang memungkinkan peneliti “bertanya, memprediksi, dan menjawab pertanyaan biologis secara digital”. Dengan data itu, Biohub ingin membangun model prediktif yang dapat mensimulasikan respons sel terhadap berbagai perubahan, sehingga peneliti dapat menguji kemungkinan secara komputasional sebelum melakukan eksperimen di laboratorium.

Biohub didirikan pada 2016 dan sejak April 2026 telah berkomitmen USD 500 juta atau sekitar Rp8,95 triliun untuk Virtual Biology Initiative. Dari komitmen itu, USD 400 juta dialokasikan untuk teknologi pengukuran baru, termasuk tomografi elektron kriogenik, mikroskopi yang mampu mengamati jutaan hingga miliaran sel dalam jaringan hidup, serta perangkat untuk merekayasa dan mengubah proses biologis pada tingkat molekul hingga organisme.

Dukungan pemerintah AS kemudian memperbesar skala proyek. Departemen Energi akan menggelontorkan lebih dari USD 500 juta selama lima tahun untuk pengukuran laboratorium, pemodelan, dan komputasi. Sementara itu, National Institutes of Health akan mengoordinasikan kumpulan data, repositori, serta basis pengetahuan yang berasal dari investasi federal sebelumnya senilai lebih dari USD 500 juta dan menstandarkannya agar dapat digunakan untuk melatih AI.

Menurut Alex Rives, kepala sains Biohub, kebutuhan data menjadi salah satu persoalan terbesar dalam membangun model biologis yang akurat. “Model prediktif biologi yang akurat dapat mempercepat penemuan ilmiah secara dramatis dengan memungkinkan ilmuwan melakukan eksperimen secara digital,” kata Rives. Menurutnya, pendekatan itu dapat memperluas pemahaman mengenai penyakit sekaligus membuka jalur baru menuju pengobatan.

Rives menegaskan bahwa skala data yang tersedia saat ini masih jauh dari kebutuhan model tersebut. Dataset sel yang ada baru mencapai ratusan juta sel, sedangkan model prediktif yang akurat diperkirakan membutuhkan data hingga miliaran dan pada akhirnya triliunan sel. “Kita perlu menangkap bahasa biologi, kita perlu menangkap bahasa sel. Dan itu belum ada saat ini,” ujarnya kepada Reuters.

Karena itu, proyek ini tidak hanya berfokus pada pembuatan model AI, tetapi juga pengumpulan data dalam skala yang belum pernah dilakukan secara terkoordinasi. Biohub akan menggunakan teknik seperti transkriptomik spasial untuk memetakan aktivitas molekuler di jaringan utuh serta berbagai pengujian yang merekam respons sel terhadap perubahan lingkungan. Pekerjaan yang biasanya membutuhkan puluhan tahun ditargetkan dipadatkan menjadi lima tahun.

Ambisi tersebut juga memperlihatkan perubahan arah investasi teknologi besar menuju biologi. Priscilla Chan mengatakan kepada Reuters, “Biologi selama ini merupakan ilmu yang bertumpu pada penemuan yang cerdas hingga saat ini. Kami selalu memandang ini sebagai aset komunitas, bukan hanya untuk satu kelompok, sehingga dapat terus dikembangkan dari waktu ke waktu.” Data yang dihasilkan pada akhirnya akan tersedia untuk publik, meski perusahaan penyandang dana mendapat periode akses lebih awal.

Bagi Zuckerberg, proyek ini menempatkan Biohub sebagai penghubung antara modal filantropi, teknologi AI, laboratorium pemerintah, dan komunitas ilmiah internasional. Rives menyebut penciptaan sel virtual sebagai “salah satu tantangan terpenting bagi era sains berikutnya” karena membutuhkan pengumpulan data terkoordinasi pada skala nasional dan internasional. Target awalnya adalah dataset pertama dalam sekitar satu tahun, disusul model prediktif yang berfungsi dalam lima tahun.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore