
Ilustrasi infrastruktur pusat data yang menjadi bagian penting dalam perkembangan komputasi berbasis AI (Psypost)
JawaPos.com - Perlombaan membangun pusat data untuk memenuhi ledakan kebutuhan kecerdasan buatan (AI) mulai mendorong industri teknologi keluar dari batas infrastruktur Bumi. Fasilitas AI berskala besar dapat menggunakan listrik setara konsumsi sekitar 100.000 rumah, sementara permintaan listrik pusat data global diperkirakan meningkat dari 415 terawatt-jam pada 2024 menjadi sekitar 945 terawatt-jam pada 2030.
Tekanan tersebut berhadapan dengan keterbatasan jaringan listrik, kekurangan transformator, penolakan masyarakat terhadap pembangunan fasilitas baru, serta kebutuhan air untuk pendinginan. Orbit kemudian dilirik karena satelit pada lintasan tertentu dapat menerima sinar Matahari hampir terus-menerus dan membuang panas melalui radiator ke ruang angkasa, tanpa menara pendingin dan sistem pendingin konvensional.
Dilansir dari Space Daily, Rabu (19/8/2026), persoalannya bukan lagi apakah komputasi orbital memungkinkan secara fisika, melainkan apakah seluruh sistemnya dapat bekerja dan bertahan secara ekonomi. Panel surya, perangkat komputasi, radiator, pelindung radiasi, sistem komunikasi, serta wahana pengganti harus diluncurkan dan dioperasikan sebagai satu kesatuan.
Google menjadi salah satu perusahaan yang menguji gagasan tersebut melalui Project Suncatcher. Perusahaan mengusulkan konstelasi satelit bertenaga surya yang membawa cip TPU dan terhubung dengan komunikasi optik.
Rancangan awal menggunakan 81 satelit dalam formasi rapat sekitar 650 kilometer dari Bumi. Google dan Planet menargetkan peluncuran dua satelit prototipe pada awal 2027 untuk menguji perangkat keras di orbit.
Namun, keunggulan energi di orbit tidak berarti pendinginan menjadi mudah. Vakum tidak dapat membawa panas melalui konveksi sehingga panas dari cip harus dialirkan ke radiator dan dipancarkan sebagai radiasi inframerah.
Model Slava G. Turyshev untuk sistem 1 megawatt memperkirakan kebutuhan sekitar 5.640 meter persegi panel fotovoltaik dan 2.500 meter persegi radiator, bahkan sebelum seluruh perangkat wahana diperhitungkan.
Ariel Ekblaw dari Aurelia Institute menyoroti persoalan tersebut secara lebih keras. "Ruang angkasa tidak dingin seperti yang dibayangkan orang. Pada dasarnya, Anda memiliki gunung-gunung berapi kecil berupa server. Sangat sulit membuang panasnya," katanya kepada Axios. Dia memperkirakan tahap awal akan berupa eksperimen kecil, bukan kompleks pusat data raksasa.
Selain panas, radiasi dan komunikasi menjadi titik rawan lain. Google harus menguji ketahanan TPU terhadap radiasi, sementara satelit-satelitnya membutuhkan hubungan optik berkapasitas puluhan terabit per detik agar dapat membagi pekerjaan komputasi. Formasi yang rapat juga meningkatkan tuntutan pengendalian posisi dan memperbesar konsekuensi jika terjadi kegagalan atau tabrakan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jadi Tersangka, Ini Kronologi Penipuan yang Dilakukan Ruben Onsu
Ruben Onsu Jadi Tersangka, Begini Reaksi Pengacara Minola Sebayang
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Alaves: Momentum Tuan Rumah Bangkit!
Respons Tantangan Wagub Kalbar, Gubernur Jabar KDM: Mohon Maaf, Tak Maksud Membandingkan
Ruben Onsu Ditetapkan Tersangka Kasus Penipuan dan Penggelapan, Dipanggil Minggu Depan
Prediksi Skor Marseille vs Strasbourg: Rekor 15 Laga Jadi Modal Les Phoceens
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Thailand vs Vietnam Leg 1 Final Piala AFF 2026: Gajah Perang Terlalu Perkasa di Rajama
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
