Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 01.16 WIB

Menurut OECD Warga Negara Korea Selatan Berumur Panjang Namun Tidak Bahagia

Warga negara Korea Selatan berumur panjang namun tidak bahagia. (Pixabay)

 

 
JawaPos.com - Menjadi salah satu negara yang maju di Asia dalam berbagai hal, ternyata tidak membuat warga negara Korea Selatan bahagia.
 
Korea Selatan menempati peringkat pertama dalam hal perumahan di antara 38 negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), namun berada di posisi terbawah dalam hal hubungan sosial dan kepuasan hidup. 
 
Secara keseluruhan, Korea Selatan menempati peringkat ke-19 dan masuk dalam kelompok menengah, karena lemahnya ikatan sosial dan buruknya kondisi ketenagakerjaan yang menurunkan kualitas hidup, meskipun kondisi materialnya secara umum tergolong kuat.
 
Temuan tersebut dipublikasikan pada hari Senin (10/8), dalam sebuah kajian kesejahteraan independen berjudul 'Trends and Implications of the OECD Better Life Index', yang disusun oleh Korea Institute for Health and Social Affairs. 
 
Perhitungan ini, yang didasarkan pada 'OECD Better Life Index' (Indeks Kehidupan Lebih Baik OECD) versi terbaru, yang membandingkan kualitas hidup berdasarkan sebelas dimensi, termasuk perumahan, kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan hubungan sosial.
 
Hasilnya sangat bervariasi di berbagai kategori. Meskipun Korea Selatan menempati peringkat pertama dalam hal perumahan serta peringkat kedua dalam pengetahuan dan keterampilan, negara ini berada di kelompok terbawah untuk bidang-bidang lainnya, yakni peringkat ke-35 dalam kesejahteraan subjektif, ke-36 dalam kualitas pekerjaan, dan ke-37 dalam hubungan sosial.
 
Aspek perumahan dievaluasi berdasarkan, tingkat kepadatan hunian dan keterjangkauan biaya perumahan. 
 
Korea Selatan menempati peringkat kedua dalam hal pengetahuan dan keterampilan. Skor rata-rata matematika untuk siswa berusia 15 tahun dalam Program for International Student Assessment (PISA) adalah 527,3 poin, angka tertinggi kedua di antara negara-negara OECD.
 
Namun, negara tersebut menempati peringkat mendekati posisi terbawah dalam beberapa indikator kesejahteraan subjektif. 
 
Tingkat kepuasan hidup tercatat sebesar 6,5 dari 10 poin (peringkat ke-36), sementara 14,85 persen penduduk melaporkan lebih sering mengalami emosi negatif dibandingkan emosi positif dalam keseharian (peringkat ke-29). 
 
Secara keseluruhan, negara ini menempati peringkat ke-35 dalam kategori kesejahteraan subjektif.
 
Indikator hubungan sosial juga menunjukkan adanya isolasi yang meluas. Dalam kategori hubungan sosial, Korea Selatan memperoleh skor 2,42 dari 10 poin dan menempati peringkat ke-37, menjadikannya satu-satunya negara yang berada di bawah Jepang. 
 
Pada kategori ini, Korea Selatan menempati peringkat terakhir untuk indikator dukungan sosial, yang mengukur apakah seseorang memiliki kerabat atau teman yang dapat diandalkan saat dibutuhkan, dengan 20,64 persen responden menyatakan tidak memiliki siapapun untuk diandalkan.
 
Kondisi ketenagakerjaan tetap menjadi salah satu yang terburuk. Proporsi pekerja yang bekerja 50 jam atau lebih per minggu tercatat sebesar 13,69 persen, menempatkan negara ini di peringkat ke-34. 
 
Median upah perempuan tercatat 28,95 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki, yang merupakan kesenjangan upah gender terbesar di OECD. 
 
Negara ini juga menempati peringkat rendah dalam beberapa indikator ketimpangan dan kemiskinan; kelompok 20 persen teratas memiliki penghasilan 5,77 kali lipat dari kelompok 20 persen terbawah, menempatkannya di peringkat ke-27.
 
Laporan tersebut mencatat tingkat gabungan kematian akibat bunuh diri, serta penyalahgunaan alkohol dan narkoba di Korea sebesar 27,97 per 100.000 penduduk, angka tertinggi kedelapan di antara 38 negara yang dievaluasi. 
 
Sebaliknya, angka harapan hidup negara tersebut yang mencapai 83,5 tahun menempati peringkat kelima, yang menyoroti kontras tajam antara umur panjang dan kesejahteraan dalam menjalani hidup.
 
Dikutip dari Korea Times, Jeong Hae Sik sebagai penulis laporan tersebut, menyarankan pemerintah untuk menerapkan kebijakan guna meningkatkan kualitas hidup.
 
"Norwegia menunjukkan perkembangan yang relatif seimbang di semua bidang sehingga menempati peringkat pertama secara keseluruhan," ujar Jeong. 
 
"Korea memerlukan kebijakan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup, karena negara ini masih rentan dalam hal indikator ketimpangan, hubungan sosial, dan kesejahteraan subjektif."
 
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore