Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Agustus 2026 | 22.37 WIB

Mekanisasi Tak Cukup, Jepang Hadapi Krisis Regenerasi Petani dan Masa Depan Sawah

Seiichi Yamaguchi, petani padi di Yaita, Prefektur Tochigi, Jepang, tetap bertani hingga usia awal 70-an berkat dukungan mesin pertanian modern (The Japan Times) - Image

Seiichi Yamaguchi, petani padi di Yaita, Prefektur Tochigi, Jepang, tetap bertani hingga usia awal 70-an berkat dukungan mesin pertanian modern (The Japan Times)

JawaPos.com - Di Yaita, Prefektur Tochigi, Jepang, Seiichi dan Sanae Yamaguchi telah menyelesaikan penanaman padi pada awal Juni. Selama puluhan tahun, kegiatan itu menjadi rutinitas setiap musim semi. Kini, mekanisasi pertanian memungkinkan pasangan yang telah memasuki usia awal 70-an tersebut tetap mengelola sawah dengan beban fisik yang lebih ringan.

Meski demikian, kemajuan teknologi menghadirkan persoalan yang lebih rumit. Mesin membuat pertanian dapat dijalankan dengan lebih sedikit tenaga kerja, termasuk dari anggota keluarga. Bagi generasi muda, kondisi itu membuka kesempatan untuk membangun kehidupan di luar pertanian. Namun, ketika petani seperti keluarga Yamaguchi pensiun, belum tentu ada anggota keluarga yang siap meneruskan lahan mereka.

Dilansir dari The Japan Times, Senin (3/8/2026), keluarga Yamaguchi merupakan gambaran dari perubahan yang berlangsung di pedesaan Jepang. Yaita berada sekitar 30 kilometer sebelah timur Nikko dan lebih dikenal sebagai wilayah pertanian serta manufaktur. Bagi Seiichi, padi memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar hasil panen.

"Padi adalah simbol pertanian Jepang. Saya merasa memiliki kewajiban untuk memproduksinya," ujarnya.

Kini, padi juga menjadi tanaman yang paling memungkinkan bagi Seiichi untuk terus dibudidayakan. Saat lebih muda, ia menjalankan usaha tani yang lebih beragam, termasuk menanam bawang dan memelihara ternak. Sekarang, ia berfokus pada padi, sedangkan ternak yang masih mereka miliki dikelola bersama masyarakat dan berada di pegunungan.

Seiichi justru melihat teknologi sebagai alasan untuk optimistis. Menurutnya, bertani hingga usia awal 70-an hampir mustahil dilakukan jika kondisi teknologi masih seperti pada 1990-an. Ia berharap perkembangan mesin akan membuat pekerjaan semakin efisien dan tidak terlalu menguras tenaga.

Perubahan tersebut sekaligus menggeser pola pewarisan pertanian. Dahulu, seluruh anggota keluarga yang mampu bekerja dibutuhkan di lahan. Anak-anak membantu orang tua dan mengambil alih pertanian keluarga kerap dianggap sebagai kewajiban. Seiichi mengalaminya sendiri.

"Sejak kecil, saya dibuat percaya bahwa sudah menjadi takdir saya untuk mengambil peran sebagai kepala rumah tangga dan mengelola pertanian. Karena perang, tidak ada ruang bagi ambisi pribadi," katanya.

Karena itu pula, Seiichi memilih tidak menempatkan harapan tersebut kepada anak dan cucunya. Ia mengatakan keputusan mengenai masa depan mereka sepenuhnya berada di tangan masing-masing.

Editor: Candra Mega Sari
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore