
Paus Leo XIV, yang kumpulan pidato dan tulisannya telah disertifikasi oleh perusahaan Australia, Proudly Human, sebagai karya yang ditulis manusia, bukan dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) (The Guardian)
JawaPos.com - Kurang dari dua bulan setelah memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) merupakan salah satu tantangan terbesar bagi umat manusia, kumpulan pidato dan tulisan Paus Leo XIV kini memperoleh sertifikasi sebagai karya yang sepenuhnya ditulis manusia.
Verifikasi tersebut menjadi simbol kuat di tengah meningkatnya penggunaan AI generatif dalam produksi konten, sekaligus mempertegas pentingnya transparansi mengenai asal-usul sebuah karya.
Buku berjudul 'Maps of Hope' menjadi karya pertama Paus Leo XIV yang memperoleh sertifikasi tersebut. Publikasi ini memuat kumpulan pidato dan tulisan Paus yang diterbitkan beriringan dengan ensiklik pertamanya, Magnifica Humanitas, yang secara khusus membahas dampak sosial, etika, dan kemanusiaan dari perkembangan AI.
Dilansir dari The Guardian, Kamis (23/7/2026), sertifikasi diberikan oleh Proudly Human, perusahaan asal Australia yang dipimpin mantan Kepala Ilmuwan Australia, Dr. Alan Finkel. Proses peninjauan dilakukan bersama penerbit buku, Australian Catholic University (ACU), serta para kardinal di Vatikan untuk memastikan karya tersebut benar-benar berasal dari penulis manusia.
Dalam ensiklik Magnifica Humanitas yang terbit pada Mei lalu, Paus Leo XIV menegaskan bahwa AI tidak boleh dibiarkan "mendominasi umat manusia". Menurutnya, perkembangan teknologi tersebut harus diarahkan agar tetap berpihak kepada manusia, dapat diakses secara luas, serta terbuka terhadap diskusi dan perdebatan publik. Pesan tersebut sekaligus menyoroti kekhawatiran atas terkonsentrasinya kendali teknologi AI di tangan segelintir pihak.
Finkel mengungkapkan bahwa dirinya sejak awal memiliki keyakinan tinggi bahwa isi Maps of Hope memang ditulis langsung oleh Paus Leo XIV. Keyakinan tersebut kemudian dikonfirmasi melalui proses verifikasi yang hanya memerlukan waktu sekitar satu hari sebelum perusahaan menerbitkan sertifikasi sebagai karya buatan manusia.
"Dalam kasus ini, buku tersebut lolos sebagaimana yang kami harapkan, yakni pada dasarnya murni hasil karya manusia," kata Finkel.
Ia menjelaskan bahwa proses sertifikasi tidak hanya mengandalkan perangkat pendeteksi AI. Penulis atau perwakilannya terlebih dahulu harus menjalani verifikasi identitas dan menandatangani deklarasi yang menyatakan bahwa AI tidak digunakan untuk menyusun draf pertama maupun menulis kalimat atau paragraf dalam naskah.
Setelah itu, Proudly Human menjalankan serangkaian alat pendeteksi AI yang menganalisis berbagai karakteristik bahasa, termasuk pola tata bahasa dan nuansa penulisan. Menurut Finkel, perusahaan menggunakan empat hingga lima sistem pendeteksi berbeda yang dipadukan melalui algoritma internal dan dievaluasi setiap malam agar tetap akurat menghadapi perkembangan teknologi AI.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Nathalie Holscher-Aripat Menikah, Sule Titip Pesan untuk Adzam, Balasan Nathalie Jadi Sorotan
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Analis Ungkap Strategi Iran Pilih Sasar Negara Teluk Tanpa Serang Kapal Induk AS
